Tulisan ini ditulis oleh yohanes bambang sumaryo ketua PPSA

Tulisan ini agak panjang.


Dalam salah satu komen ada yang bilang kalaupun punya duit, daripada buat pasang plts atap, lebih baik uangnya di depositokan saja di bank bumn dan bunganya bisa buat bayar tagihan listrik selamanya.


Mari kita coba simulasikan pernyataan ini apakah benar atau tidak.
Saat ini bunga deposito di bank bumn besar dengan termin 1 bulan adalah 4.25% per tahun, sementara termin 3 bulan 5.5% per tahun. Perlu diingat juga ada pajak final atas bunga deposito sebesar 20% dari bunga yang diterima.
Ambil contoh sebuah perusahaan A yang menempati ruko/kantor sedang yang mayoritas penggunaan listriknya siang hari, dengan tagihan listrik per bulan Rp2.975 jt atau penggunaan listrik per bulan 1843 kWh (tarif Rp1467.28/kWh ditambah pajak penerangan jalan 10% menjadi Rp1614/kWh).
Penggunaan listrik per hari 1843/30 = 61.4kWh.


Karena di Ruko, pemakaian kebanyakan siang, pemakaian siang diasumsikan 57.4kWh dan malammya 4kWh untuk sekedar menyalakan lampu2x, cctv dan 1 kulkas saja.


Supaya mendapatkan dana Rp2.975 jt net tiap bulan setelah dipotong pajak bunga deposito, ternyata perusahaan tsb harus mendepositokan dana sejumlah sekitar Rp1.05 Milyar. Bunga 4.25% per tahun atau 0.354% per bulan senilai Rp3.718.750 sebelum potong pajak , atau Rp2.975.000 setelah dipotong pajak. Anggap pemakaian listrik, tarif listrik dan bunga deposito tetap selama 12 tahun, maka di akhir tahun ke 12 si perusahaan tetap memiliki dana 1.05 milyar dengan tetap harus membayar tagihan listrik tiap bulan Rp2.975.000.
Perusahaan sejenis, B juga sama penggunaan listriknya, 1843 kWh sebulan atau 61.4kWh per hari, memutuskan memssang plts atap offgrid dengan battery sangat minimal. PKTS atap yang dipasang 20kWp dengan batt LFP 6kWh. Dengan konfigurasi ini, secara rata2x akan dapat memenuhi penggunaan listrik siang 57.4 kWh dan malam 4 kWh. Dan dari penawaran terbaik yang ada, ternyata biaya pemasangan plts atap hybrid 20kWp dengan battery LFP 6kWh itu bisa didapat harga the best offer 210jt dengan spek lumayan bagus.
Dan dengan pemasangan plts atap hybrid ini penggunaan listrik dari grid pln hampir nol dan karena prabayar voucher listriknya awet gak berkurang.
Karena idealismenya tinggi dan perhitungan yang matang si perusahaan juga menawarkan 4 perusahaan lainnya yang sejenis untuk memasang dengan biaya dari si perusahaan ini dan sebagai kompensasi ke 4 perusahaan tsb masing2x cukup mencicil sebanyak 90% dari tagihan listrik bulanannya atau sebanyak 2.975.000 x 0.9= Rp2.677.500 per bulan selama 12 tahun.
Jadi, si perusahaan B ini.sama2x jeluar dana 1.05 Milyar seperti perusahaan A. Bedanya, perusahaan A dengan cerdik menempatkan dananya di deposito dan hanya ambil bunganya untuk bayar listeik bulanan sementara perusahaan B membangun 5 plts atap yang salah satu di tempatnya sendiri.
Dari ke 4 pkts atap yang disewakan/di leasingkan, mendapat pembayaran balik 4 x2.677.500 atau Rp10.710.000 per bulan atau Rp32.130.000 per 3 bulan. Dana ini ditempatkan di deposito yang netnya dapat kira2x 1.1 per 3 bulan …atau dalam 1 tahun akan menjadi 32.130.000×4,0604= Rp130.460.652
Dengan net bunga 4% per tahun maka dari deposito tiap tahun Rp130.460.652 tersebut diatas setelah tahun ke 12 akan menjadi Rp1.960.275.664
Sekarang kita bandingkan …si perusahaan A tetap punya dana Rp1.05 milyar dalam bentuk deposito ya g tidak bisa diapa apakankarwna dia butuh bunganya untuk bayar listrik tiap bulan.
Sementara perusahaan B, punya dana cash yang bebas Rp1.96 milyar, dan tidak perlu bayar listrik lagi tiap bulan lagi dan … bikin happy 4 perusahaan lain yang mulai tahun ke 13 tidak usah mrncicil lagi, sudah lunas dan bisa menikmati listrik hingga 13-18 tahun berikutnya bahkan mungkin lebih lama .. .

Lagi