Hallo rekan-rekan pegiat Renewable Energy yg luar biasa.

Saklar DC menggunakan MCB AC bolehkah? Fatal …

Kebakaran karena salah memilih alat proteksi mungkin bisa kita hindari, namun karena masih ada rekan-rekan kita yg menggunakan MCB AC untuk proteksi peralatan DC untuk solar panel, maka ini perlu kita ulas lagi, mengingat potensi bahaya yg bisa mengancam. Karena saat menggunakan PV system kita akan bermain pada high V dan High A , kita tahu ini.
Circuit breaker, sesuai namanya, adalah device yang memutuskan rangkaian listrik. Mirip dengan sekring/fuse, MCB akan putus/trip atau biasa kita sebut “turun” ketika ada arus berlebih yang mengalir.

Fungsi breaker pada prinsipnya untuk memutus sirkuit dari/ke sumber daya, dalam hal ini rangkaian modul fotovoltaik dan beban. Selama terjadi pemutusan, kontak internal akan terlepas dan busur listrik akan terjadi saat arus melintas di celah udara. Pada periode waktu ini, busur listrik harus dipadamkan untuk menghentikan aliran arus yang melalui sirkuit . Ketidakmampuan mcb ac ada disitu, bahkan mcb ac bisa terbakar jika voltase dan A tinggi terjadi.

Panduan Ongrid system untuk Pemula bisa baca disini

Why kenapa tidak boleh menggunakan mcb AC ?

• Sakelar AC, Di dalam rangkaian bertegangan AC, tegangan akan muncul 50 kali per detiknya secara bergantian antara tegangan +V dan -V dalam bentuk sinusoidal (dengan frekuensi 50 Hz). Karena ada titik di mana tegangan berada pada nilai 0 V, sekering akan memutus sambungan dan juga memadamkan busur listrik pada 0 V.
• Sakelar DC Berbeda dengan rangkaian AC, rangkaian DC merupakan rangkaian dengan arus yang konstan dan tidak bolak-balik. Karena tidak ada 0 V, sakelar AC tidak akan bisa memutus arus sirkuit DC. Sakelar
DC menggunakan magnetic untuk menarik busur listrik dari celah udara dan lalu memadamkannya. Karena itu, jangan pernah menggunakan sekering AC yang tidak dilengkapi magnet karena tidak dapat memadamkan busur listrik. Terbakarlah yg terjadi pada mcb ac

Merintis RT/RwNet bertenaga surya dengan Omset puluhan juta bisa dibaca disini

Mengenal Tripping Curve pada MCB

Sebelum kita bahas apa itu tripping curve, saya mau kasih tahu dulu satu rahasia. Begini, “MCB itu tidak akan langsung trip ketika ada arus yang sedikit lebih besar daripada In.”

MCB itu hanya akan langsung trip ketika arus yang lewat 5 – 20 kalinya In. Kalau hanya lebih besar sedikit dari In, MCB akan trip mungkin berjam-jam kemudian. Pernah ga pas di rumah, lagi asik-asik nonton TV lalu tiba-tiba mati lampu padahal kita ga sedang menyalakan sesuatu (AC dari tadi udah nyala, dispenser juga biasa nyala, ga ada yang lagi strika). Ketika dilihat ke MCB, ternyata MCB nya turun. Ini berarti arus yang mengalir di MCB itu hanya lebih besar sedikit daripada In nya. Seberapa cepat CB ini akan trip tergantung dari tripping curve-nya.

Video tentang membedakan MCB DC dengan cara didekatkan antar 2 MCB bisa dilihat disini : mcb dc akan saling bertolak belakang.

Tripping curve itu adalah kurva yang menunjukkan seberapa cepat CB akan trip berdasarkan arus yang dilaluinya. Sumbu x biasa menunjukkan I (arus) atau I/In (arus relatif rating CB). Sumbu y menunjukkan waktu/delay trip si CB. Di bawah ini contoh tripping curve.

Desamu berpotensi berpenghasilan 100juta rupiah per bulan dari panel surya begini caranya baca disini

Tripping curve biasa dibuat dalam skala logarithmic (bisa dilihat jarak antar garis skalanya tidak selalu sama)

Di gambar terlihat ada 2 kurva yang paralel, untuk sementara abaikan dulu kurva yang sebelah kiri, kita fokus ke kurva yang kanan ya. Bisa dilihat kalau kurva ini terdiri dari 2 segment: segment logarithmic (yang melengkung) dan segment yang lurus. Kedua segment ini ada karena sistem mekanis yang membentuk sebuah MCB. Pada umumnya, MCB itu memiliki 2 mekanis trip di dalamnya: thermal trip dan magnetic trip.

Thermal trip menggunakan prinsip seperti thermocouple, yaitu memuainya logam karena panas. Ketika ada arus > In, bimetal di dalam MCB akan memuai (atau mungkin melengkung) sehingga pada saat tertentu hubungan listrik di CB akan terputus/trip.

Magnetic trip menggunakan solenoid yang gaya tariknya bertambah sesuai arus yang dialiri. Ketika mencapai batas arus tertentu, gaya tarik magnet ini akan menarik switch/memutuskan aliran listrik.

Dari tripping curve di atas, rating MCB tersebut adalah In = 20 A (20 A adalah asymptote dari segment yang melengkung itu). Kita bisa lihat ketika dialiri arus sebesar 20 A, CB akan trip 10000 detik kemudian (kira-kira 3 jam kemudian). Ketika dialiri arus 100 A, akan trip kira-kira 10 detik kemudian. MCB ini hanya akan trip seketika jika dialiri arus > 200 A karena di situlah magnetic trip mulai bekerja.

Lalu, kalau kita membeli MCB kan hanya ada rating thermal trip nya (In), bagaimana kita bisa tahu berapa besar magnetic tripnya?

MCB Di body-nya terlihat ada tulisan angka C6. Ini berarti In = 6 A dan tripping curve tipe C. Tripping curve tipe C menunjukkan bahwa magnetic trip akan berkisar 5-10 x In (jadi sekitar 30 – 60 A). Ada beberapa tripping curve untuk MCB:

  • B: trip 3 – 5 x In
  • C: trip 5 – 10 x In
  • D: trip 10 – 20 x In

Batas trip magnetic memang akan selalu dalam range seperti ini karena kinerja magnetic trip unit tidak eksak, melainkan dalam range tertentu (tetapi bisa dipastikan akan dalam range yang tertulis di atas).

Untuk MCCB, nilai arus magnetic trip ini biasa tertulis berapa Ampere di spesifikasinya, bahkan ada yang bisa diubah-ubah juga nilainya seperti nilai In nya.

sekarang mari kita lihat 2 kurva yang ada di tripping curve di atas. Dua kurva ini juga menunjukkan range tripping MCB. Kurva yang kiri adalah garis ketika kemungkinan CB akan trip adalah 0%. Jadi, region di sebelah kiri kurva ini dipastikan tidak akan membuat CB trip. Kurva yang kanan adalah garis ketika kemungkinan CB akan trip adalah 100%. Jadi, di sebelah kanan kurva ini dipastikan CB akan trip. Di antaranya tentu saja kemungkinan CB akan trip adalah di antara 0% – 100%.

Antara mono dan poly lebih bagus mana baca disini juga

Lalu bagaimana memilih saklar mcb dc yg tepat?

  1. Rating arus A mcb dc harus 1,25 kali lebih tinggi dari arus total string modul fotovoltaik yang terhubung.
    Sebagai contoh, jika lima string modul fotovoltaik dengan arus sirkuit pendek sebesar isc 8 A terhubung ke kotak penggabung, maka sakelar pemutus yang digunakan harus yang memiliki rating 50 A (dari perhitungan: 8 A x 5 string x 1,25 = 50 A).
  2. Sakelar harus yang diperuntukkan bagi tegangan DC dan nilainya sesuai dengan tegangan maksimum sirkuit terbuka dari rangkaian modul fotovoltaik. Jika tegangan mencapai 1000 VDC, empat kutub (pole) MCB diperlukan untuk memutus rangkaian.
  3. Sakelar pemutus harus memungkinkan dilakukannya pemutusan hubungan yang aman. Sebelum melakukan perawatan, sakelar pemutus harus mudah diakses oleh kita.

jossss gandosss


Desamu berpotensi berpenghasilan 100juta rupiah dari panel surya begini caranya baca disini

Ingin memulai listrik tenaga surya 100Owatt dengan modal 5jutaan untuk menghemat biaya bulanan PLN bisa baca disini artikelnya.

Bingung pilih Ongrid atau offgrid baca selengkapnya disini
Antara mono dan poly lebih bagus mana baca disini juga
Antara Pwm vs MPPT siapa yang paling baik baca disini ya

Membuat system hidroponik tenaga surya dengan penghasilan jutaan perbulan bisa baca disini

Membuat alat perangkap hama murah meriah dengan tenaga surya bisa baca disini

Ingin memulai listrik tenaga surya, bingung apa yang perlu disiapkan, dana dan perlengkapnya bisa baca disini


ingin punya Peralatan solar panel bergaransi up to 15tahun https://www.bukalapak.com/u/temonsujadi

Sekian pembahasan kali ini, kita akan bahas hal-hal menarik lainnya mengenai renewable energy
semoga bermanfaat semoga sehat selalu.

temonsoejadi
Pegiat Renewable energy