Beranda

Kapan sepenuhnya dewasa ?

5 Komentar


dewasa1Bismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah, shofaa-ul maa’ bi thohaarotil wi-aa’, (air yang jenih) (sebab wadahnya yang bersih). begitu juga ilmu jika bertempat di hati yang masih kotor, maka kemurnian ilmunya akan keruh karena bercampur dengan sifat-sifat tercela. “Namun Jangan sampai ketidakcerdasan menjadi penghalang dalam semangat mencari ilmu. Karena ilmu itu yg penting manfaat dan barokahnya.” Sepertihalnya bangunan tidak bisa dibangun diatas tanah yang tidak stabil; begitu juga kehidupan tidak akan bisa dibangun diatas hati yang tidak damai. betul tidak kawan ?

Orang sekarang lebih banyak khawatinya daripada berusaha lalu bersyukurnya, padahal Lebih baik membayangkan keberhasilan walaupun kemudian gagal, daripada membayangkan kegagalan dan betul-betul gagal. lah kok bisa begitu ? karena yang perlu kita bangun adalah sikap baik, maka kebaikan datang kepada orang-orang yang mempunyai sikap baik, Kalau kita tidak tahu caranya sukses, maka setidaknya cegahlah kegagalan, betul tidak ?

sebuah kisah menarik cobalah menyelaminya maksudnya…

Dikisahkan, suatu waktu Nabi Musa ‘alaihis salam merasakan sakit pada giginya. Beliau mengadukan penyakitnya itu pada Allah agar mendapatkan kesembuhan.

baca selengkapnya disini

Dimana tempatmu bersandar ?

3 Komentar


Bismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah, sebelumnya saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1433 H, semoga hikmah dari Qurban dapat menyentuh hati kita, kawan.. mungkin diantara 2000 pembaca perhari ini ada yang bertanya-tanya, kok blog saya ini isinya sometimes about islam -cahaya hati and sometimes about engineering and etc, iya, saya rasa kamu sudah tahu jawabnnya… jawaban ada dibawah,…

sahabatku yang baik hatinya,

Sandaran hidup manusia beragam. ada yang bersandar pada Harta, tahta, wanita/pria adalah sandaran hidup yang paling populer. Kemudian ada pula yang menjadikan “ilmu”, benda-benda “pusaka/keramat”, kesaktian, ajian atau mantra yang dalam percakapan sehari-hari di kalangan Bugis-Makassar disebut “baca-baca” sebagai pegangan hidup.

Tidak sedikit pula yang menjadikan sesama manusia sebagai sandaran hidup. Ada yang menamakannya pemimpin, selebritis, ilmuwan, orangtua, kekasih (pacar, suami/istri) dan lain sebagainya. Malah, ada juga yang mengandalkan “diri sendiri” sebagai sandaran/pegangan hidup. Hanya sebagian kecil saja dari kalangan manusia yang menjadikan Allah sebagai sandaran, cantolan, pegangan, backing/beking hidupnya. Itu pun seringkali manusia berpaling atau bahkan lari menghidar dari Tuhan, sandaran hidup mereka sendiri. makanya banyak dari kita yang hidupnya tidak bahagia, karena apa? karena kita tidak bersandar kepada dzat yang maha membahagiakan yaitu Allah swt.

kiranya kisah cahaya hati berikut dapat membuka mata hati kita….

Pada suatu kesempatan ada seorang anak yang bertanya pada ibunya, “Bunda, temanku tadi cerita kalau ibunya selalu membiarkan tangannya sendiri digigit nyamuk sampai nyamuk itu kenyang supaya ia tak menggigit temanku. Apa bunda juga akan berbuat yang sama buat aku?”

Sang ibu tertawa dan menjawab terus terang, “Tidak Nak. Tapi, Bunda akan mengejar setiap nyamuk sepanjang malam supaya tidak sempat menggigit kamu dan keluarga kita.”

baca kisah cahaya hati selengkapnya…

kelembutan hati yang terdalam

Tinggalkan komentar


bismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang saya sayangi karena Allah, ilmu akan mengantarkan seseorang untuk beriman, dan iman pula akan membuat hati seseorang itu menjadi lembut, dan hati yang lembut akan membuat seseorang itu mudah menangis. siapa diantara sahabatku yang tak pernah sedkitpun menangis dalam hidupnya?… adakah yang bisa jawab ?

kurangilah tertawamu kawan, kurangilah tertawamu karena Rosulullah bersabda :

“Demi Allah, seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kamu akan sedikit tertawa dan akan banyak menangis”. [H.R. At-Tirmizi]

sebuah kisah, mari selami dalam-dalam maknannya..

Seorang kakek sedang berjalan-jalan sambil menggandeng cucunya di jalan pinggiran pedesaan. Mereka menemukan seekor kura-kura. Sang Cucu mengambilnya dan mengamat-amatinya dengan penuh rasa ingin tahu. Kura-kura ketakutan dan segera menarik kaki dan kepalanya masuk ke dalam tempurungnya. Sang Cucu mencoba membuka tempurung kura-kura secara paksa.
“Cara demikian tidak pernah akan berhasil, Cu!” beritahu Kakek. “Mari, Kakek akan mencoba mengajarimu cara yang benar.”

baca kisah selengkapnya..

%d blogger menyukai ini: