Beranda

Teh ini…. rasanya manis ya ?

Tinggalkan komentar


Suatu petang selepas shalat Isya, seseorang datang ke tempat kang Soleh. Pakaiannya rapi, di saku bajunyapun terselip sebuah pulpen parker. Sorot matanya tajam, walau dibalut kaca mata minus.

Kedatangannya ke tempat kang Soleh hanya ingin berkonsultasi tentang
merasakan manisnya ibadah.

Setelah berbasa – basi, orang itupun mulai bertanya kepada kang Soleh.

”Maaf nih kang, saya sudah bertanya ke beberapa orang tentang suatu hal, yang menurut saya, sulit untuk difahami oleh saya. Penjelasan yang diberikan oleh orang – orang yang saya ajak bicara, hanya bersifat verbal dan sulit difahami oleh akal sehat saya” celoteh orang itu.

”Lo… kalau sampeyan, sudah bertanya ke beberapa orang mengapa masih tanya kepada saya ?” jawab kang Soleh.

”Nah… justru saya t ida k menemukan jawaban yang memuaskan, makanya saya ingin bertanya kepada kang Soleh.”

”Jadi… apa nih, masalah sebenarnya ?”, tanya kang Soleh sambil terus senyum.

”Merasakan manisnya ibadah kang ….. ” celetuk orang itu.

”Lo… itu sudah jelas, tidak sedikit dalil yang menerangkan tentang manisnya ibadah.” jawab kang Soleh.

”Justru itu kang, saya dibuat pusing……. sekarang logikanya begini kang, bagaimana mungkin ibadah kok terasa manis ? kalau maksiat dibilang manis, itu masuk logika kang.” sergah orang itu.

Diam – diam kang Soleh mulai mengetahui arah pembicaraan orang yang ada di depannya. Dari bibirnyapun terdengar lirih lantunan istighfar. Sementara kang Soleh masih terdiam, orang itupun berkata lagi.

”Sekarang begini kang, seumpama saya bekerja di sebuah perusahaan sebagai kepala bagian purchasing, otomatis semua vendor – vendor yang ingin memasukkan barang ke tempat perusahaan saya bekerja, keputusannya ada di tangan saya. Nah, di posisi yang seperti ini kang, bukankah korupsi merupakan hal yang manis ? dan saya pun yakin banyak orang yang mengidam–idamkan posisi seperti yang saya tempati.
Kenapa ? karena posisi basah kang, kenapa basah ? ya … karena banyak sumber uang yang bisa dikorupsi.”

Mendengar ocehan orang itu, kang Solehpun masih terdiam. Melihat diamnya kang Soleh orang itupun kembali melanjutkan bicaranya.

”Terus sekarang kan lagi ramai – ramainya piala dunia kang, sudah menjadi tren khususnya di kota – kota, ada acara nonton bareng piala dunia. Nah… biar lebih jreng ada juga yang pakai taruhan, biar lebih semangat… kalau jagoannya menang, selain senang, masih ada bonusnya kang… yakni dapat uang taruhan, yang begini … nih… kan manis namanya.”

Sesaat kemudian, orang itu terlihat mengakhiri pembicaraannya. Kang Solehpun masih terdiam termangu – mangu mendengar penuturan orang itu.

Dalam lubuh hati yang terdalam kang Soleh berkata, ”orang seperti ini belum tentu terbuka hatinya, bila dijawab langsung dengan menukil ayat–ayat Al Qur’an ataupun Al Hadits, bagi dia hanya jawaban yang masuk logika yang bisa ia terima.”

”Sudah, hanya itu ceritanya ?” mendadak kang Soleh bertanya.

”Ya itu kang, realita yang ada sekarang… yang membuat saya tidak bisa mengerti, dan memahami, ”merasakan manisnya ibadah.” jawab orang itu.

Setelah terdiam sebentar, sesaat kemudian kang Soleh berkata, ” Mau minum kopi atau teh manis, ni ?”
”Teh manis, saja kang….. kalau t ida k merepotkan”, jawab orang itu.

Sesaat kemudian, kang Solehpun meminta isterinya membuatkan dua gelas teh manis untuk dirinya dan orang itu. Setelah sama – sama meminum, kang Soleh berkata. ” Teh ini…. rasanya manis ya ? ”

” Ya … iya lah kang, wong pakai gula… ya jelas manis rasanya.” jawab orang itu.

” Tapi, ada juga lo…. orang yang t ida k bisa merasakan manisnya gula ?” balas kang Soleh.

”Ga mungkin kang…. sudah dari sononya gula rasanya manis, mau bodoh, mau pinter, mau pejabat, mau pengemis…. kalau minum pakai campuran gula…jelas rasanya manis.” jawab orang itu.

”Orang yang sedang sakit…………” jawab kang Soleh.

Orang itupun tersenyum …. mendengar jawaban kang Soleh. Sesaat kemudian kang Soleh melanjutkan kata – katanya.

”Orang yang sedang sakit, t ida k bisa merasakan manisnya gula. Terlepas yang sakit oranga bodoh, orang pinter, pejabat, pengemis, disaat sedang sakit, gula yang sejatinya rasanya manis terasa pahit dilidah orang sakit itu.”

”Rasa pahit yang ia rasakan, bukan karena gula t ida k manis rasanya, namun karena ia sedang dalam keadaan sakit…., ia t ida k bisa merasakan manisnya gula…. melainkan pahit, walaupun rasa gula yang sesungguhnya rasanya manis.”

”Orang yang sakit, bisa kembali merasakan manisnya rasa gula, ketika ia sudah menjadi sehat. Ia bisa menjadi sehat dikala penyakit–penyakit dalam tubuhnya sudah diobati dengan obat yang sesuai untuk penyakitnya, serta ditangani oleh dokter yang memang ahli mengobati penyakit tersebut.”

”Di saat sakitnya telah sembuh, dan sehatnya telah kembali, maka orang tersebut ketika meminum teh manis… bukan lagi pahit yang ia rasakan seperti rasa saat sakit, melainkan manis yang ia rasakan sebagaimana rasa yang dialami oleh orang – orang sehat lainnya.”

Mendengar penuturan dari kang Soleh, wajah orang itu sedikit kelihatan pucat….diam–diam, ia mulai sedikit memahami pembicaraan kang Soleh. Setelah menghela nafas, untaian kalimat meluncur dari kang Soleh.

”Orang yang hatinya meng ida p p eny akit t ida k akan bisa merasakan manisnya ibadah, walaupun dijelaskan dengan penjelasan panjang lebarpun t ida k akan bisa menerimanya, sebagaimana orang yang sedang sakit t ida k bisa merasakan manisnya gula, walaupun dijelaskan secara ilmiah tentang zat pemanis yang terkandung di dalam gula.”

”Orang bisa merasakan manisnya ibadah, dikala p enyakit–penyakit dihatinya telah terobati, serta ditangani oleh guru pembimbing yang sempurna sebagaimana ditangani oleh dokter – dokter ahli”

”Begitu mutlaknya guru pembimbing, karena hanya dengan pimbingannyalah kita mengetahui jenis–jenis penyakit yang ada dalam hati kita, sebagaimana seorang dokter lebih mengetahui jenis penyakit yang diderita oleh tubuh kita, dibanding diri kita sendiri yang penuh kebodohan.”

”Orang – orang yang sakit hatinya, walaupun sedang beribadah dihamparan permadani Rabbani dan berhadapan secara langsung secara hakiki dengan Allah SWT, tidak bisa merasakan manisnya sebuah ibadah, padahal Allah sudah sangat dekat dan bahkan lebih dekat dari urat lehernya sendiri.”

Antara Burung, Cacing dan Manusia

Tinggalkan komentar


Bila kita sedang mengalami kesulitan hidup karena himpitan kebutuhan materi, maka cobalah kita ingat pada burung dan cacing.

Kita lihat burung tiap pagi keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Tidak terbayang sebelumnya kemana dan dimana ia harus mencari makanan yang diperlukan. Karena itu kadangkala sore hari ia pulang dengan perut kenyang dan bisa membawa makanan buat keluarganya, tapi kadang makanan itu cuma cukup buat keluarganya, sementara ia harus “puasa”. Bahkan seringkali ia pulang tanpa membawa apa-apa buat keluarganya sehingga ia dan keluarganya harus “berpuasa”. Meskipun burung lebih sering mengalami kekurangan makanan karena tidak punya “kantor” yang tetap, apalagi setelah lahannya banyak yang diserobot manusia, namun yang jelas kita tidak pernah melihat ada burung yang berusaha untuk bunuh diri.

Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menukik membenturkan kepalanya ke batu cadas. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menenggelamkan diri ke sungai. Kita tidak pernah melihat ada burung yang memilih meminum racun untuk mengakhiri penderitaannya. Kita lihat burung tetap optimis akan rizki yang dijanjikan Allah.

Kita lihat, walaupun kelaparan, tiap pagi ia tetap berkicau dengan merdunya. Tampaknya burung menyadari benar bahwa demikianlah hidup, suatu waktu berada diatas dan dilain waktu terhempas ke bawah. Suatu waktu kelebihan dan di lain waktu kekurangan. Suatu waktu kekenyangan dan dilain waktu kelaparan.

Sekarang marilah kita lihat hewan yang lebih lemah dari burung, yaitu cacing. Kalau kita perhatikan, binatang ini seolah-olah tidak mempunyai sarana yang layak untuk survive atau bertahan hidup. Ia tidak mempunyai kaki, tangan, tanduk atau bahkan mungkin ia juga tidak mempunyai mata dan telinga. Tetapi ia adalah makhluk hidup juga dan, sama dengan makhluk hidup lainnya, ia mempunyai perut yang apabila tidak diisi maka ia akan mati. Tapi kita lihat, dengan segala keterbatasannya, cacing tidak pernah putus asa dan frustasi untuk mencari rizki. Tidak pernah kita menyaksikan cacing yang membentur-benturkan kepalanya ke batu.

Sekarang kita lihat manusia. Kalau kita bandingkan dengan burung atau cacing, maka sarana yang dimiliki manusia untuk mencari nafkah jauh lebih canggih.

Tetapi kenapa manusia yang dibekali banyak kelebihan ini seringkali kalah dari burung atau cacing? Mengapa manusia banyak yang putus asa lalu bunuh diri menghadapi kesulitan yang dihadapi? Padahal rasa-rasanya belum pernah kita lihat cacing yang berusaha bunuh diri karena putus asa. Rupa-rupanya kita perlu banyak belajar dari burung dan cacing.

SALAM DAN BERJABAT TANGAN

Tinggalkan komentar


Mengucapkan salam dan berjabat tangan kepada sesama Muslim adalah perkara yang terpuji dan disukai dalam Islam. Dengan perbuatan ini hati kaum Muslimin dapat saling bersatu dan berkasih sayang di antara mereka. Namun apa yang terjadi jika perbuatan terpuji ini dilakukan tidak pada tempat yang semestinya? Tidak ada kebaikan yang didapat bahkan pelanggaran syariatlah yang terjadi.

Untuk itu dalam edisi kali ini kami nukilkan keterangan para ulama tentang masalah ini dari buku Al Qaulul Mubin fi Akhth’ail Mushallin karya Syaikh Masyhur Hasan Salman halaman 290-296. Mudah-mudahan keterangan ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam beliau bersabda : “Apabila salah seorang dari kalian bertemu dengan saudaranya maka ucapkanlah salam padanya. (Kemudian) jika pohon, tembok, atau batu menghalangi keduanya dan kemudian bertemu lagi maka salamlah juga padanya.” (HR. Abu Dawud dalam As Sunan nomor 5200 sanadnya shahih dan para perawinya tsiqah. Lihat Silsilah Al Ahadits As Shahihah nomor 186)

Pada hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan seorang Muslim mengucapkan salam kepada saudaranya yang Muslim jika menjumpainya. Karena salam dapat menggalang persatuan, menghilangkan rasa benci, dan mendatangkan cinta. Perintah di dalam hadits ini bersifat istihbaab yang maknanya anjuran dan ajakan, bukan wajib (lihat dalil-dalil yang memalingkan dari hukum wajib ke hukum istihbaab dalam kitab Aqdu Az Zabarjad fi Tahiyyati Ummati Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam).

Tidak dibedakan dalam mengucapkan salam tersebut antara orang yang berada di dalam ataupun di luar masjid. Bahkan sunnah yang shahihah menunjukkan disyariatkannya mengucapkan salam kepada orang yang berada di dalam masjid baik ketika shalat ataupun tidak.

Dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam keluar menuju Quba dan shalat di sana. Lalu datang orang-orang Anshar kemudian mereka mengucapkan salam kepadanya sedangkan beliau sedang shalat. Dia (Ibnu Umar) berkata : Lalu saya bertanya kepada Bilal : “Bagaimana kamu lihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab salam mereka ketika mereka mengucapkan salam kepadanya padahal dia sedang shalat?”

Ibnu Umar berkata : Bilal berkata : “Begini, sambil membentangkan telapak tangannya.” Begitu pula Ja’far bin ‘Aun membentangkan tangannya dan menjadikan telapak tangannya di bawah sedangkan punggungnya di atas.” (HR. Abu Dawud dalam As Sunan nomor 927 dan Ahmad dalam Al Musnad 2/30 dengan sanad shahih atas syarat Bukhari dan Muslim. Lihat Silsilah Al Ahadits As Shahihah nomor 185).

Dua Imam, Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuwiyah berpegang pada hadits ini. Al Marwazi berkata : [ Saya bertanya kepada Ahmad : “Apakah salam diucapkan kepada kaum yang sedang shalat?” Dia menjawab : “Ya.” Lalu beliau menyebutkan kisah Bilal ketika ditanya oleh Ibnu Umar : “Bagaimana beliau menjawab (salam)?” Dia berkata : “Dia memberi isyarat.” Ishaq juga berkata sebagaimana yang dia katakan. ] (Masa’il Al Marwazi halaman 22).

Riwayat ini dipilih oleh Al Qadli Ibnul Arabi, dia berkata : “Isyarat dalam shalat bisa jadi untuk menjawab salam atau karena suatu perkara yang tiba-tiba terjadi saat shalat juga karena kebutuhan yang mendesak bagi orang shalat. Jika untuk menjawab salam maka dalam hal ini terdapat atsar-atsar shahih seperti perbuatan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam di Quba dan selainnya. (Lihat ‘Aridlah Al Ahwadzi 2/162)

Dalil tentang disyariatkannya mengucapkan salam setelah shalat di masjid adalah hadits tentang orang yang jelek shalatnya, hadits yang terkenal (masyhur) dari Abu Hurairah :

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam masuk ke masjid. Lalu seseorang masuk dan shalat. Kemudian dia datang lalu mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab salamnya seraya berkata : “Kembalilah shalat karena sesungguhnya kamu belum shalat!” Maka orang itu kembali lalu shalat sebagaimana dia telah shalat sebelumnya. Kemudian dia datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Hal itu dia lakukan tiga kali. (HR. Bukhari, Muslim, dan selainnya)

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata : “Dengan hadits ini, Shadiq Hasan Khan berdalil di dalam kitabnya Nuzul Al Abrar halaman 350-351 bahwa : “Jika seseorang diucapkan salam kepadanya kemudian dia mendatanginya dari dekat maka disunnahkan untuk mengucapkan salam untuk kedua dan ketiga kali padanya.”

Beliau juga berkata : “Hadits ini juga menjadi dalil disyariatkannya mengucapkan salam kepada orang di dalam masjid sebagaimana juga hadits tentang ucapan salam orang-orang Anshar kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam di Masjid Quba sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya. Akan tetapi kita temukan orang-orang tidak menghiraukan sunnah ini. Salah seorang mereka masuk Masjid tanpa mengucapkan salam pada orang yang berada di dalamnya karena mereka mengira bahwa hal itu makruh. Semoga apa yang kami tulis menjadi peringatan bagi mereka dan selainnya. Sedangkan peringatan itu bemanfaat bagi orang-orang yang beriman. (Silsilah Al Ahadits As Shahihah)

Jadi salam dan berjabat tangan dilakukan ketika datang atau hendak berpisah walaupun hanya sebentar. Sama saja apakah di dalam Masjid atau di luar masjid. Akan tetapi sayang sekali, tatkala Anda mengucapkan salam kepada seseorang saat berjumpa dengan Anda setelah shalat dengan ucapan assalamu’alaikum warahmatullahi maka dengan segera dia menjawab taqabbalallah. Dia mengira telah menegakkan apa yang telah Allah wajibkan atasnya berupa kewajiban membalas salam, seolah-olah dia tidak mendengar

firman Allah Ta’ala :

Apabila kamu diberi penghormatan dengan salam penghormatan maka balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang sebanding. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. (QS. An Nisa’ : 86)

Dan sebagian mereka bersegera mengucapkan pada Anda sebagai ganti dari salam dengan ucapan taqabbalallah (semoga Allah menerima amal kita) padahal Allah telah berfirman :

Salam penghormatan mereka pada hari mereka menemui-Nya ialah : “Salam.” (QS. Al Ahzab : 44)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

Sebarkanlah salam di antara kalian. (HR. Muslim dalam Shahih-nya nomor 54 dan Ahmad dalam Al Musnad 2/391, 441, dan 495 serta yang selainnya)

Beliau tidak menyatakan : “Katakanlah taqabbalallah !!” Kita tidak mengetahui dari salah seorang sahabat pun atau Shalafush Shalih radliyallahu ‘anhum bahwa apabila mereka selesai dari shalat menoleh ke kanan dan ke kiri untuk menjabat tangan orang di sekitarnya agar diberkahi sesudah shalat.

Seandainya salah seorang dari mereka melakukan hal itu, sungguh akan dinukilkan bagi kita meskipun dengan sanad yang lemah dan ulama akan menyampaikan pada kita karena mereka terjun di semua lautan ilmu lalu menyelam pada bagian yang terdalam dan mengeluarkan hukum-hukum darinya. Mereka tidak mungkin menyepelekan sunnah Qauliyyah, Fi’liyyah, Taqririyyah atau Sifat (sabda, perbuatan, persetujuan atau sifat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam). [ Tamamu Al Kalam fi Bid’ah Al Mushafahah Ba’da As Salam halaman 24-25 dan Al Masjid fi Al Islam halaman 225 ]

Syaikh Abdullah bin Abdirrahman Al Jibrin berkata : “Mayoritas orang yang shalat mengulurkan tangan mereka untuk berjabat tangan dengan orang di sampingnya setelah salam dari shalat fardlu dan mereka berdoa dengan ucapan mereka ‘taqabbalallah’. Perkara ini adalah bid’ah yang tidak pernah dinukil dari Salaf.” (Majalah Al Mujtama’ nomor 855).

Bagaimana mereka melakukan hal itu sedangkan para peneliti dari kalangan ulama telah menukil bahwa jabat tangan dengan tata cara tersebut (setelah salam dari shalat) adalah bid’ah?

Al ‘Izzu bin Abdussalam berkata : “Jabat tangan setelah shalat Shubuh dan Ashar termasuk bid’ah kecuali bagi yang baru datang dan bertemu dengan orang yang menjabat tangannya sebelum shalat. Maka sesungguhnya jabat tangan disyaratkan tatkala datang.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berdzikir setelah shalat dengan dzikir-dzikir yang disyariatkan dan beristighfar tiga kali kemudian berpaling. Diriwayatkan bahwa beliau berdzikir :

“Wahai Rabbku, jagalah saya dari adzab-Mu pada hari Engkau bangkitkan hamba-Mu.” (HR. Muslim 62, Tirmidzi 3398 dan 3399, dan Ahmad dalam Musnad 4/290)

Kebaikan seluruhnya adalah dalam mengikuti Rasul (Fatawa Al ‘Izzi bin Abdussalam halaman 46-47 dan lihat Al Majmu’ 3/488). Apabila bid’ah ini di masa penulis terbatas setelah shalat yang dua rakaat, maka sungguh di jaman kita ini hal itu telah terjadi pada seluruh shalat. Laa haula wala quwwata illa billah.

Al Luknawi berkata : [ Sungguh telah tersebar dua perkara di masa kita ini pada mayoritas negeri, khususnya di negeri-negeri yang menjadi lahan subur berbagai bid’ah dan fitnah, yaitu :

1.      Mereka tidak mengucapkan salam ketika masuk masjid waktu shalat Shubuh, bahkan mereka masuk dan shalat sunnah kemudian shalat fardlu. Lalu sebagian mereka mengucapkan salam atas sebagian yang lain setelah shalat dan seterusnya. Hal ini adalah perkara yang jelek karena sesungguhnya salam hanya disunnahkan tatkala bertemu sebagaimana telah ditetapkan dalam riwayat-riwayat yang shahih, bukan tatkala telah duduk.

2.      Mereka berjabat tangan setelah selesai shalat Shubuh, Ashar, dan dua hari raya, serta shalat Jum’at. Padahal pensyariatan jabat tangan juga hanya di saat awal bersua. ] (As Sa’ayah fi Al Kasyfi Amma fi Syarh Al Wiqayah halaman 264).

Dari perkataan beliau dapat dipahami bahwa jabat tangan antara dua orang atau lebih yang belum bersua sebelumnya tidak ada masalah. Syaikh Al Albani berkata di dalam As Silsilah As Shahihah 1/23 : “Adapun jabat tangan setelah shalat adalah bid’ah yang tidak ada keraguan padanya, kecuali antara dua orang yang belum bersua sebelumnya. Maka hal itu adalah sunnah.”

Al Luknawi berkata setelah menyebutkan silang pendapat tentang jabat tangan setelah shalat : “Di antara yang melarang perbuatan itu ialah Ibnu Hajar Al Haitami As Syafi’i, Quthbuddin bin ‘Ala’addin Al Makki Al Hanafi, dan Al Fadlil Ar Rumi dalam Majalis Abrar menggolongkannya termasuk dari bid’ah yang jelek ketika beiau berkata : “Berjabat tangan adalah baik saat bertemu. Adapun selain saat bertemu misalnya keadaan setelah shalat Jum’at dan dua hari raya sebagaimana kebiasaan di jaman kita adalah perbuatan tanpa landasan hadits dan dalil! Padahal telah diuraikan pada tempatnya bahwa tidak ada dalil berarti tertolak dan tidak boleh taklid padanya.” (Sumber yang sama dan Ad Dienul Al Khalish 4/314, Al Madkhal 2/84, dan As Sunan wa Al Mubtada’at halaman 72 dan 87).

Beliau juga berkata : “Sesungguhnya ahli fiqih dari kelompok Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Malikiyah menyatakan dengan tegas tentang makruh dan bid’ahnya.” Beliau berkata dalam Al Multaqath : “Makruh (tidak disukai) jabat tangan setelah shalat dalam segala hal karena shahabat tidak saling berjabat tangan setelah shalat dan bahwasanya perbuatan itu termasuk kebiasaan-kebiasaan Rafidlah.” Ibnu Hajar, seorang ulama Syafi’iyah berkata : “Apa yang dikerjakan oleh manusia berupa jabat tangan setelah shalat lima waktu adalah perkara yang dibenci, tidak ada asalanya dalam syariat.”

Dan alangkah fasihnya perkataan beliau Rahimahullah Ta’ala dari ijtihad dan ikhtiarnya. Beliau berkata : [ Pendapat saya, sesungguhnya mereka telah sepakat bahwa jabat tangan (setelah shalat) ini tidak ada asalnya dari syariat. Kemudian mereka berselisih tentang makruh atau mubah. Suatu masalah yang berputar antara makruh dan mubah harus difatwakan untuk melarangnya, karena menolak mudlarat lebih utama daripada menarik maslahah. Lalu kenapa dilakukan padahal tidak ada keutamaan mengerjakan perkara yang mubah? Sementara orang-orang yang melakukannya di jaman kita menganggapnya sebagai perkara yang baik, menjelek-jelekkan dengan sangat orang yang melarangnya, dan mereka terus-menerus dalam perkara itu.

Padahal terus-menerus dalam perkara mandub (sunnah) jika berlebihan akan menghantarkan pada batas makruh. Lalu bagaimana jika terus-menerus dalam bid’ah yang tidak ada asalnya dalam syariat?!

Berdasarkan atas hal ini, maka tidak diragukan lagi makruhnya. Inilah maksud orang yang memfatwakan makruhnya. Di samping itu pemakruhan hanyalah dinukil oleh orang yang menukilnya dari pernyataan-pernyataan ulama terdahulu dan para ahli fatwa. Maka riwayat-riwayat penulis Jami’ul Barakat, Siraj Al Munir, dan Mathalib Al Mu’minin misalnya, tidaklah mampu menyamainya karena kelonggaran penulisnya dalam meneliti riwayat-riwayat telah terbukti. Dan telah diketahui oleh Jumhur Ulama bahwa mereka mengumpulkan segala yang basah dan kering (yang jelas dan yang samar).

Dan yang lebih mengherankan lagi ialah penulis Khazanah Ar Riwayah tatkala ia berkata : (Nabi) ‘Alaihis Salam berkata : “Jabat tanganlah kalian setelah shalat Shubuh niscaya Allah akan menetapkan bagi kalian sepuluh (kebaikan).” Dan berkata Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Berjabat tanganlah kalian setelah shalat Ashar niscaya kalian akan dibalas dengan rahmah dan pengampunan.” Sementara dia tidak memahami bahwa kedua hadits ini dan yang semisalnya adalah palsu yang dibuat-buat oleh orang-orang yang berjabat tangan itu. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. ] (As Sa’aayah fi Al Kasyfi Amma fi Syarh Al Wiqayah halaman 265)

Akhirnya sebagai penutup harus diperingatkan bahwa tidak boleh bagi seorang Muslim memutuskan tasbih (dzikir) saudaranya yang Muslim kecuali dengan sebab syar’i. Yang kami saksikan berupa gangguan terhadap kaum Muslimin ketika mereka melaksanakan dzikir-dzikir sunnah setelah shalat wajib kemudian dengan tiba-tiba mereka mengulurkan tangan untuk berjabat tangan ke kanan dan ke kiri dan seterusnya yang memaksa mereka tidak tenang dan terganggu, bukan hanya karena jabat tangan, akan tetapi karena memutuskan tasbih dan mengganggu mereka dari dzikir kepada Allah karena jabat tangan ini, padahal tidak ada sebab-sebab perjumpaan dan semisalnya.

Jika permasalahannya demikian, maka bukanlah termasuk dari hikmah jika Anda menarik tangan Anda dari tangan orang di samping Anda dan menolak tangan yang terulur pada Anda. Karena sesungguhnya ini adalah sikap yang kasar yang tidak dikenal dalam Islam. Akan tetapi ambillah tangannya dengan lemah lembut dan jelaskan kepadanya kebid’ahan jabat tangan ini yang diada-adakan manusia. Betapa banyak orang yang terpikat dengan nasihat dan dia orang yang pantas dinasihati. Hanya saja ketidaktahuan telah menjerumuskannya kepada perbuatan menyelisihi sunnah.

Maka wajib atas ulama dan penuntut ilmu menjelaskannya dengan baik. Bisa jadi seseorang atau penuntut ilmu bermaksud mengingkari kemungkaran tetapi tidak tepat memilih metode yang selamat. Maka dia terjerumus dalam kemungkaran yang lebih besar daripada yang diingkari sebelumnya. Maka lemah lembutlah wahai da’i-da’i Islam. Buatlah manusia mencintai kalian dengan akhlak yang baik niscaya kalian akan menguasai hati mereka dan kalian mendapati telinga yang mendengar dan hati yang penuh perhatian dari mereka. Karena tabiat manusia adalah lari dari kekasaran dan kekerasan.

(Tamam Al Kalam fi Bid’ah Al Mushafahah Ba’da As Salam halaman 23)

Dikutip dari Kitab Al Qaulul Mubin fi Akhtha’il Mushallin karya Syaikh Masyhur Hasan Salman oleh Ma’mar Al Marasi.

MANGKUK TAK BERALAS

Tinggalkan komentar


Seorang raja bersama pengiringnya keluar dari istananya untuk menikmati udara pagi. Di keramaian, ia berpapasan dengan seorang pengemis. Sang raja menyapa pengemis ini:

“Apa yang engkau inginkan dari dariku?”

Si pengemis itu tersenyum dan berkata : “Tuanku bertanya, seakan-akan tuanku dapat memenuhi permintaan hamba.”

Sang raja terkejut, ia merasa tertantang : “Tentu saja aku dapat memenuhi permintaanmu. Apa yang engkau minta, katakanlah!

Maka menjawablah sang pengemis: “Berpikirlah dua kali, wahai tuanku, sebelum tuanku menjanjikan apa-apa.”

Rupanya sang pengemis bukanlah sembarang pengemis. Namun raja tidak merasakan hal itu. Timbul rasa angkuh dan tak senang pada diri raja, karena mendapat nasihat dari seorang pengemis.

“Sudah aku katakan, aku dapat memenuhi permintaanmu. Apapun juga! Aku adalah raja yang paling berkuasa dan kaya-raya.”

Dengan penuh kepolosan dan kesederhanaan si pengemis itu mengangsurkan mangkuk penadah sedekah: “Tuanku dapat mengisi penuh mangkuk ini dengan apa yang tuanku inginkan.”

Bukan main! Raja menjadi geram mendengar ‘tantangan’ pengemis dihadapannya. Segera ia memerintahkan bendahara kerajaan yang ikut dengannya untuk mengisi penuh mangkuk pengemis kurang ajar ini dengan emas! Kemudian bendahara menuangkan emas dari pundi-pundi besar yang di bawanya ke dalam mangkuk sedekah sang pengemis. Anehnya, emas dalam pundi-pundi besar itu tidak dapat mengisi penuh mangkuk sedekah.

Tak mau kehilangan muka di hadapan rakyatnya, sang raja terus memerintahkan bendahara mengisi mangkuk itu. Tetapi mangkuk itu tetap kosong. Bahkan seluruh perbendaharaan kerajaan: emas, intan berlian, ratna mutumanikam telah habis dilahap mangkuk sedekah itu. Mangkuk itu seolah tanpa dasar, berlubang.

Dengan perasaan tak menentu, sang raja jatuh bersimpuh di kaki si pengemis bukan pengemis biasa, terbata-bata ia bertanya : “Sebelum berlalu dari tempat ini, dapatkah tuan menjelaskan terbuat dari apakah mangkuk sedekah ini?”

Pengemis itu menjawab sambil tersenyum : “Mangkuk itu terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas. Itulah yang mendorong manusia senantiasa bergelut dalam hidupnya. Ada kegembiraan, gairah memuncak di hati, pengalaman yang mengasyikkan kala engkau menginginkan sesuatu. Ketika akhirnya engkau telah mendapatkan keinginan itu, semua yang telah kau dapatkan itu, seolah tidak ada lagi artinya bagimu. Semuanya hilang ibarat emas intan berlian yang masuk dalam mangkuk yang tak beralas itu. Kegembiraan, gairah, dan pengalaman yang mengasyikkan itu hanya tatkala dalam proses untuk mendapatkan keinginan. Begitu saja seterusnya, selalu kemudian datang keinginan baru. Orang tidak pernah merasa puas. Ia selalu merasa kekurangan. Anak cucumu kelak mengatakan : power tends to corrupt; kekuasaan cenderung untuk berlaku tamak.”

Raja itu bertanya lagi : “Adakah cara untuk dapat menutup alas mangkuk itu?”

“Tentu ada, yaitu rasa syukur kepada Allah SWT. Jika engkau pandai bersyukur, Allah akan menambah nikmat padamu.”*

Ucap sang pengemis itu, sambil ia berjalan kemudian menghilang dari mata khalayak.

*[dari QS Ibraahiim; 14:7]

WONG FEI HUNG, ISLAM TILL DIE

1 Komentar


Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus.

Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri.

Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya.

Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Alah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amin.

Inilah bukti jika semua manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah/suci
Yaitu ia telah mengakui bahwa Tuhan itu cuma 1
Maka saat ada ajaran Tuhan 3 tapi satu
Ini jelas bertentangan dengan hati nurani
Dengan itulah orang yang baru memeluk Islam
Maka ia bukan berpindah agama, tapi kembali pada fitrah Islam
Menyembah hanya pada 1 Allah saja….. TITIK !!!

Semoga ini menjadi renungan bagi “saudara”2 sekitar kita yang murtad hanya karena sekeping perak & seonggok cinta fana…

Sementara justru orang berada, intelektual, publik figur & para pemimpin dan justru para pemimpin + pemuka agama lain baik di barat maupun di timur malah masuk Islam dengan Ikhlas & sadar jika cuma Islam satu-satunya agama yang benar.

Lihat saudara2 kita yang miskin, mereka didatangi missionaries kristen & menawarkan sekeping harta agar saudara kita murtad, mari kita tengok & perhatikan saudara sekitar kita.

2,5% harta zakat kita berikan pada fakir miskin secara langsung. Ini akan lebih meresap dihati karena setiap ibadah adalah untuk menyucikan jiwa. Zakat ialah syariat, tapi hakikatnya ia menyucikan jiwa dengan menghilangkan kikir, tamak, rakus, menumbuhkan rasa sayang sesama, ikhlas, menolong dan lainnya.

Ma’rifatnya ialah bersyukur pada Allah yang telah memberi begitu banyaknya nikmat yang tak terhingga dan lainnya.

Qs.3 Ali Imran:85. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Waktu Mustajab Untuk Berdoa

Tinggalkan komentar


1. Sepertiga malam terakhir.

وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “ينزل ربنا كل ليلة إلى سماء الدنيا، حين يبقى الثلث الأخير من الليل؛ فيقول: من يدعوني فأستجيب له؟ من يسألني فأعطيه؟ من يستغفرني فأغفر له؟”

Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Rabb kita turun pada setiap malam ke langit dunia saat tersisa sepertiga malam yang terakhir. Lalu Ia berfirman : ‘Siapa saja yang berdoa kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan, siapa saja yang meminta kepada-Ku niscaya akan Aku berikan. Siapa saja yang meminta ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni”.[1]

2. Saat sujud.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “نُهيت أن أقرأ القرآن راكعاً، أو ساجداً؛ فأما الركوع فعظموا فيه الرب، وأما السجود فاجتهدوا فيه بالدعاء؛ فإنه قمن أن يستجاب لكم”

Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Aku dilarang untuk membaca Al-Qur’an ketika rukuk atau sujud. Adapun ketika rukuk, agungkanlah Allah oleh kalian di dalamnya; dan ketika sujud, bersungguh-sungguhlah kalian di dalamnya untuk berdoa karena (pada waktu itu) layak bagi (doa) kalian untuk dikabulkan”.[2]

Allah ta’ala berfirman :

وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ

“Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)”.[3]

وقال صلى الله عليه وسلم : “أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد؛ فأكثروا الدعاء”

Dan telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Waktu yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah saat ia sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah doa”.[4]

3. Satu saat di hari Jum’at.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “خير يوم طلعت عليه الشمس يوم الجمعة، فيه خُلق آدم، وفيه أدخل الجنة، وفيه تيب عليه، وفيه أهبط إلى الأرض، وفيه تقوم الساعة”

Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sebaik-baik hari yang terbit padanya matahari adalah hari Jum’at. Pada waktu itulah diciptakan Adam, dimasukkannya ia ke dalam surga, diterima taubatnya (oleh Allah), diturunkannya ia ke bumi, dan ditegakkannya hari kiamat”.[5]

وقال صلى الله عليه وسلم : “في يوم الجمعة ساعة لا يوافقها مسلم وهو قائم يصلي، يسأل الله خيراً إلا أعطاه”، وقال بيده، قلنا يقللها يزهدها

Telah bersabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Pada hari Jum’at terdapat satu saat yang tidak ada seorang muslim pun yang bertepatan berdiri melakukan shalat dan memohon kepada Allah kebaikan, kecuali Allah akan memberikannya”. Beliau berisyarat dengan tangannya. Kami (perawi) mengartikan bahwa beliau mengisyaratkan sebentarnya waktu itu.[6]

Para ulama berbeda pendapat mengenai waktu yang dimaksud oleh beliau ini. Ada yang mengatakan : “Saat terbitnya matahari”. Sebagian lain mengatakan : “Saat zawal (tergelincirnya matahari di waktu siang)”. Sebagian lagi berkata : “Saat adzan (dikumandangkan)”. Dikatakan : “Jika Khathib telah naik mimbar lalu (mulai) berkhutbah”. Dikatakan pula : “Jika orang-orang berdiri untuk melaksanakan shalat”.

Dan jumhur ulama berpendapat bahwa waktu yang dimaksud adalah setelah ‘Ashar.

Kemudian mereka (jumhur ulama) pun berbeda pendapat dalam perinciannya tepatnya. Ada yang mengatakan di awal waktu sore, adapula yang mengatakan di akhir waktu sore. Perkataan terakhir inilah pendapat yang raajih dari sekian pendapat yang ada. Dalil yang mendasarinya adalah perkataan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

يوم الجمعة ثنتا عشرة – يريد ساعة – لا يوجد مسلم يسأل الله – تعالى – شيئاً إلا آتاه الله عز وجل؛ فالتمسوها آخر ساعة بعد العصر

“Hari Jum’at itu ada 12 – maksudnya adalah 12 jam – yang tidaklah seorang seorang muslim didapati sedang meminta (berdoa) sesuatu kepada Allah ta’ala kecuali Allah ‘azza wa jalla akan mengabulkannya. Maka, carilah ia di akhir waktu setelah ‘Ashar”.[7]

4. Di akhir shalat-shalat yang diwajibkan.

عن أبي أمامة قال : قيل : يا رسول الله أي الدعاء أسمع؟ قال جوف الليل الآخر، ودبر الصلوات المكتوبات.

Dari Abu Umaamah radliyallaahu ‘anhu : Dikatakan : “Wahai Rasulullah, kapankah waktu yang paling baik saat doa dikabulkan ?”. Beliau bersabda : “Akhir waktu malam dan akhir shalat-shalat yang diwajibkan”.[8]

Catatan : Para ulama berselisih pendapat tentang makna duburush-shalah. Sebagian ulama mengatakan maknanya adalah seusai shalat setelah salam. Sebagian lain mengatakan maknanya adalah di akhir shalat sebelum salam.

5. Antara adzan dan iqamat.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “لا يرد الدعاء بين الأذان والإقامة”.

Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Tidaklah ditolak doa yang diucapkan antara adzan dan iqamat”.[9]

6. Saat adzan dikumandangkan.

وقال صلى الله عليه وسلم : “ثنتان لا تُردان أو قلَّ ما تردان: الدعاء عند النداء….”.

Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Ada dua hal yang tidak akan ditolak atau jarang ditolak : “Doa saat adzan……”.[10]

7. Saat bertemu musuh (di medan perang/jihad fii sabiilillah).

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “ثنتان لا تردان أو قَلَّ ما تردان : “…، وعند البأس حين يُلْحَمُ بعضه بعضاً”.

Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Ada dua hal yang tidak akan ditolak atau jarang ditolak : “…..dan ketika perang saat dua pihak saling menyerang”.[11]

8. Lailatul-Qadr.

Malam tersebut merupakan waktu untuk meraih aneka macam kebaikan, dikabulkannya doa, dilipatgandakannya (pahala) amal, digugurkannya beban (doa) yang berat. Amal yang dilakukan pada waktu itu lebih baik daripada seribu bulan amal semisal yang dilakukan di waktu selainnya. Allah ta’ala berfirman :

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”.[12]

yaitu : (lebih baik daripada malam) yang tidak ada padanya Lailatul-Qadr. Dikatakan, Lailatul-Qadr jatuh pada malam ke-27 Ramadlan. Ibnu ‘Abbas, habrul-ummah dan turjumanul-Qur’an, memilih pendapat ini. Pendapat ini berdalil karena surat ini terdiri dari 30 kata, dan kata yang ke-27 adalah ayat :

سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.

Namun yang lebih nampak dan lebih kuat, malam Lailatul-Qadr tidak tertentu waktunya. Wallaahu a’lam.

9. Saat safar.

قال النبي صلى الله عليه وسلم : “ثلاث دعوات لا شك فيهن دعوة المسافر والمظلوم ودعوة الوالد على ولده”.

Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Ada tiga doa yang tidak diragukan lagi padanya (untuk dikabulkan) : doa seorang musafir, doa orang yang teraniaya/terdhalimi, dan doa orang tua kepada anaknya”.[13]

10. Saat berpuasa.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “ثلاث دعوات لا ترد : دعوة الوالد، ودعوة الصائم، ودعوة المسافر”.

Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Ada tiga macam doa yang tidak akan ditolak : doa orang tua (kepada anaknya), doa orang yang berpuasa, dan doa seorang musafir”.[14]

11. Saat bulan Ramadlan.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “إن لله عتقاء في كل يوم وليلة لكل عبد منهم دعوة مستجابة”.

Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya setiap hari Allah membebaskan (beberapa hamba-Nya yang muslim dari api neraka) dari api neraka. Setiap muslim yang berdoa (di waktu tersebut) pasti akan dikabulkan”.[15]

12. Doa yang dipanjatkan untuk seseorang ketika orang tersebut tidak ada di hadapannya.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “دعوة المرء المسلم لأخيه بظهر الغيب مستجابة؛ عند رأسه ملك موكل كلما دعا لأخيه بخير، قال الملك الموكل به: آمين ولك بمثل”.

Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya adalah mustajab. Di kepalanya terdapat malaikat yang ditugaskan menjaganya. Setiap kali ia berdoa kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang menjaganya tersebut berkata : ‘amiin, dan bagimu hal yang semisal”.[16]

13. Saat minum air zamzam.

Air zamzam merupakan air yang sangat diberkahi. Jika ia diminum sambil berdoa, maka insya Allah akan dikabulkan sesuai dengan keinginannya. Diriwayatkan oleh Jaabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

زَمْزَمُ لِمَا شُرِبَ لَهُ

“Air zamzam itu menurut apa yang diinginkan peminumnya”.[17]

14. Saat wuquf di ‘Arafah.

قال النبي صلى الله عليه وسلم : خير الدعاء دعاء يوم عرفة

Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sebaik-baik doa adalah doa (yang dipanjatkan) pada hari ‘Arafah”.[18]

15. Saat diguyur hujan

قال النبي صلى الله عليه وسلم : ثنتان ما تردان : الدعاء عند النداء و تحت المطر

Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Ada dua hal yang tidak akan ditolak : doa saat adzan berkumandang dan saat diguyur hujan”.[19]

16. Terbangun dari tidur yang sebelumnya dalam keadaan suci (berwudlu).

قال النبي صلى الله عليه وسلم : ما من مسلم يبيت على ذكر طاهرا فيتعار من الليل فيسأل الله خيرا من الدنيا والآخرة إلا أعطاه إياه

Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Tidaklah seorang muslim yang tidur dalam keadaan berdzikir lagi suci, lalu ia terbangun di malam hari dan memohon (berdoa) kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat, niscaya Allah akan memberikannya”.[20]

17. Saat mendengar ayam jantan berkokok

قال النبي صلى الله عليه وسلم : “إذا سمعتم صياح الديكة من الليل فاسألوا الله من فضله فإنها رأت ملكا وإذا سمعتم نهيق الحمار من الليل فتعوذوا بالله من الشيطان فإنه رأى شيطانا”.

Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Apabila kalian mendengar ayam jantan berkokok di waktu malam, maka mintalah anugrah kepada Allah, karena sesungguhnya ia melihat malaikat. Namun apabila engkau mendengar keledai meringkik di waktu malam, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari gangguan syaithan, karena sesungguhnya ia telah melihat syaithan”.[21]

18. Saat memejamkan mata orang yang meninggal.

عن أم سلمة. قالت : دخل رسول الله صلى الله عليه وسلم على أبي سلمة وقد شق بصره. فأغمضه. ثم قال “إن الروح إذا قبض تبعه البصر”. فضج ناس من أهله. فقال “لاتدعوا على أنفسكم إلا بخير. فإن الملائكة يؤمنون على ما يقولون….”.

Dari Ummu Salamah ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui Abu Salamah (yang telah meninggal) dimana matanya masih dalam keadaan terbuka. Lalu beliau memejamkannya, dan bersabda : “Sesungguhnya ruh itu jika dicabut akan diikuti oleh mata”. Kemudian sejumlah orang dari anggota keluarganya ribut. Beliau pun lantas bersabda : “Janganlah kalian mendoakan diri kalian kecuali kebaikan. Karena sesungguhnya malaikat mengamini apa yang kalian ucapkan…”.[22]

Footnote :
[1] Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 1145 dan Muslim no. 758.
[2] Diriwayatkan oleh Muslim no. 479.
[3] QS. Al-‘Alaq : 19.
[4] Diriwayatkan oleh Muslim no. 482.
[5] Diriwayatkan oleh Muslim no. 854.
[6] Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 935 dan Muslim no. 852.
[7] Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 1048 dan An-Nasaa’iy 3/99-100. Dishahihkan oleh Al-Albaniy, dalam Shahih Sunan Abi Dawud 1/290.
[8] Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3499 dan dihasankan oleh Al-Albaniy dalam Shahih Sunan At-Tirmidziy 3/441-442.
[9] Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 521 dan At-Tirmidziy no. 212; dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam Shahih Sunan Abi Dawud 1/156.
[10] Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2540 dan dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam Shahih Sunan Abi Dawud 2/108.
[11] Idem.
[12] QS. Al-Qadr : 3.
[13] Diriwayatkan oleh Ahmad 2/258 & 434, Ath-Thayalisiy no. 2517, Ibnu Abi Syaibah 1/429, Ibnu Majah no. 3862, dan yang lainnya; dihasankan oleh Al-Arna’uth dalam Takhrij Musnad Ahmad 12/479-480.
[14] Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy 3/345, dan dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah 4/406 no. 1797.
[15] Diriwayatkan oleh Ahmad 2/254 dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 8/257; dishahihkan oleh Al-Arnauth dalam ta’liq-nya atas Musnad Ahmad.
Al-Arna’uth menukil perkataan Ibnu Hajar dalam Athraaful-Musnad (7/203) bahwasannya kandungan hadits ini terkait bulan Ramadlan. Diriwayatkan pula oleh Al-Bazzar (962 – Kasyful-Astaar) dengan lafadh :

إن الله تبارك وتعالى عتقاء في كل يوم وليلة – يعنى في رمضان – وإن لكل مسلم في كل يوم وليلة دعوة مستجاب له

“Sesungguhnya setiap hari Allah ta’ala membebaskan (beberapa orang dari api neraka) yaitu pada bulan Ramadlan, dan sesungguhnya bagi setiap orang muslim apabila memanjatkan doa, maka pasti dikabulkan”.

Namun sanad hadits Al-Bazzar di atas adalah dla’if dengan sebab rawi yang bernama Abaan bin Abi ’Ayyaasy —- (namun hadits tersebut adalah shahih dengan keseluruhan jalannya sebagaimana penshahihan Syaikh ’Ali Al-Halaby dan Syaikh Salim Al-Hilaly dalam kitab Shifat Shaumin-Nabiy, wallaahu a’lam).

Makna ’Utaqaa’ (عتقاء) dalam hadits ini adalah pembebasan dari siksa api neraka dengan sebab maghfirah Allah (di bulan Ramadlan). [lihat ta’liq dan takhrij selengkapnya dalam Musnad Ahmad (12/421 no. 7450) dengan tahqiq, ta’liq, dan takhrij Syau’aib Al-Arna’uth dan ’Adil Mursyid; dan syarah Ahmad Syakir atas kitab yang sama (7/250-251 no. 7443)].

[16] Diriwayatkan oleh Muslim no. 2733.
[17] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 3062 dan Ahmad 3/357. Ad-Dimyaathiy berkata : “Diriwayatkan oleh oleh Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad hasan” [Al-Muttajar Ar-Raabih fii Tsawaabil-‘Amalish-Shaalih oleh Ad-Dimyaathiy, hal. 318, Baab Tsawaabu Syurbi Maai Zamzam]. Dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam Irwaaul-Ghaliil, 4/320 no. 1123].

[18] Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3585 dan Ahmad 2/210; dihasankan oleh Al-Albaniy dalam Shahih Sunan At-Tirmidziy 3/471-472.
[19] Diriwayatkan oleh Al-Haakim 2/124, Al-Baihaqiy 3/360, Abu Dawud no. 2540, dan Ar-Ruwiyaaniy no. 1047; dihasankan oleh Al-Albaniy dalam Shahiihul-Jaami’ no. 3078.
[20] Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 5042, An-Nasa’iy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah no. 805-806, Ibnu Majah no. 3881; dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam Shahih Abi Dawud 3/239.
[21] Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dalam Shahih-nya no. 3303 dan Al-Adabul-Mufrad no. 1236 serta Muslim no. 2729.
[22] Diriwayatkan oleh Muslim no. 1920, Ahmad 6/297, dan Al-Baihaqiy 2/334.

ditulis oleh : Abul Jauzaa
http://abul-jauzaa.blogspot.com/

Tiga Belas Penawar Racun Kemaksiatan

Tinggalkan komentar


Tiga Belas Penawar Racun Kemaksiatan

Berikut ini ada beberapa terapi mujarab untuk menawar racun kemaksiatan.
1. Anggaplah besar dosamu
Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu berkata, ”Orang beriman melihat
dosa-dosanya seolah-olah ia duduk di bawah gunung, ia takut gunung
tersebut menimpanya. Sementara orang yang fajir (suka berbuat dosa)
dosanya seperti lalat yang lewat di atas hidungnya.”

2. Janganlah meremehkan dosa
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda, ”Janganlah kamu
meremehkan dosa, seperti kaum yang singgah di perut lembah. Lalu
seseorang datang membawa ranting dan seorang lainnya lagi datang membawa
ranting sehingga mereka dapat menanak roti mereka. Kapan saja orang yang
melakukan suatu dosa menganggap remeh suatu dosa, maka itu akan
membinasakannya.” (HR. Ahmad dengan sanad yang hasan)

3. Janganlah mujaharah (menceritakan dosa)
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda, ”Semua umatku dimaafkan
kecuali mujahirun (orang yang berterus terang). Termasuk mujaharah ialah
seseorang yang melakukan suatu amal (keburukan) pada malam hari kemudian
pada pagi harinya ia membeberkannya, padahal Allah telah menutupinya, ia
berkata, ‘Wahai fulan, tadi malam aku telah melakukan demikian dan
demikian’. Pada maalm hari Tuhannya telah menutupi kesalahannya tetapi
pada pagi harinya ia membuka tabir Allah yang menutupinya.” (HR.
Bukhari dan Muslim)

4. Taubat nasuha yang tulus
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda, ”Allah lebih bergembira
dengan taubat hamba-Nya tatkala bertaubat daripada seorang di antara
kamu yang berada di atas kendaraannya di padang pasir yang tandus.
Kemudian kendaraan itu hilang darinya, padahal di atas kendaraan itu
terdapat makanan dan minumannya. Ia sedih kehilangan hal itu, lalu ia
menuju pohon dan tidur di bawah naungannya dalam keaadaan bersedih
terhadap kendaraannya. Saat ia dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba
kendaraannya muncul di dekatnya, lalu ia mengambil tali kendalinya.
Kemudian ia berkata, karena sangat bergembira, ‘Ya Allah Engkau adalah
hambaku dan aku adalah Tuhanmu’. Ia salah ucap karena sangat
bergembira”. (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Jika dosa berulang, maka ulangilah bertaubat
Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu berkata, ”Sebaik-baik kalian adalah
setiap orang yang diuji (dengan dosa) lagi bertaubat.” ditanyakan,
‘Jika ia mengulangi lagi?’ Ia menjawab, ‘Ia beristighfar kepada Allah
dan bertaubat.’ Ditanyakan, ‘Jika ia kembali berbuat dosa?’ Ia menjawab,
‘Ia beristighfar kepada Allah dan bertaubat.’ Ditanyakan, ‘Sampai
kapan?’ Dia menjawab, ‘Sampai setan berputus asa.”’

6. Jauhi faktor-faktor penyebab kemaksiatan
Orang yang bertaubat harus menjauhi situasi dan kondisi yang biasa ia
temui pada saat melakukan kemaksiatan serta menjauh darinya secara
keseluruhan dan sibuk dengan selainnya.

7. Senantiasa beristighfar

Saat-saat beristighfar:

a. Ketika melakukan dosa

b. Setelah melakukan ketaatan

c. Dalam dzikir-dzikir rutin harian

d. Senantiasa beristighfar setiap saat

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam beristighfar kepada Allah dalam
sehari lebih dari 70 kali (dalam hadits lain 100 kali).

8. Apakah anda berjanji kepada Allah untuk meninggalkan
kemaksiatan?
Tidak ada bedanya antara orang yang berjanji kepada Allah (berupa nadzar
atas tebusan dosa yang dilakukannya) dengan orang yang tidak
melakukannya. Karena yang menyebabkan dirinya terjerumus ke dalam
kemksiatan tidak lain hanyalah karena panggilan syahwat (hawa nafsu)
lebih mendominasi dirinya daripada panggilan iman. Janji tersebut tidak
dapat melakukan apa-apa dan tidak berguna.

9. Melakukan kebajikan setelah keburukan
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda, ”Bertakwalah kepada
Allah di mana saja kamu berada, dan iringilah keburukan dengan kebajikan
maka kebajikan itu akan menghapus keburukan tersebut, serta
perlakukanlah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad dan
Tirmidzi. Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih)

10. Merealisasikan tauhid
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda, ”Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman, ‘Barangsiapa yang melakukan kebajikan, maka ia mendapatkan
pahala sepuluh kebajikan dan Aku tambah dan barangsiapa yang melakukan
keburukan keburukan, maka balasannya satu keburukan yang sama, atau
diampuni dosanya. Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka
Aku mendekat kepadanya sehasta dan barangsiapa yang mendekat kepada-ku
sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa; barangsiapa yang datang
kepada-ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari.
Barangsiapa yang menemui-Ku dengan dosa sepenuh bumi tanpa menyekutukan
Aku dengan sesuatu apapun, maka Aku menemuinya dengan maghfirah yang
sama.” (HR. Muslim dan Ahmad)

11. Jangan berpisah dengan orang-orang yang baik

a. Persahabatan dengan orang-orang baik adalah amal shalih

b. Mencintai orang-orang shalih menyebabkan sesorang bersama mereka,
walaupun ia tidak mencapai kedudukan mereka dalam amal

c. Manusia itu ada 3 golongan

i. Golongan yang membawa dirinya dengan kendali takwa dan mencegahnya
dari kemaksiatan. Inilah golongan terbaik.

ii. Golongan yang melakukan kemaksiatan dalam keadaan takut dan
menyesal. Ia merasa dirinya berada dalam bahaya yang besar, dan ia
berharapa suatu hari dapat berpisah dari kemaksiatan tersebut.

iii. Golongan yang mencari kemaksiatan, bergembira dengannya dan
menyesal karena kehilangan hal itu.

d. Penyesalan dan penderitaan karena melakukan kemaksiatan hanya dapat
dipetik dari persahabatan yang baik

e. Tidak ada alasan untuk berpisah dengan orang-orang yang baik

12. Jangan tinggalkan da’wah
Said bin Jubair berkata, ”Sekiranya sesorang tidak boleh menyuruh
kebajikan dan mencegah dari kemungkaran sehingga tidak ada dalam dirinya
sesuatu (kesalahanpun), maka tidak ada seorangpun yang menyeru kepada
kebajikan dan mencegah dari kemungkaran.” Imam malik berkomentar, ”Ia
benar. Siapakah yang pada dirinya tidak ada sesuatupun (kesalahan).”

13. Jangan cela orang lain karena perbuatan dosanya
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam menceritakan kepada para shahabat
bahwasanya seseorang berkata, ”Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni
si fulan.” Allah swt berkata, ”Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku
bahwa Aku tidak mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni
dosanya dan Aku telah menghapus amalmu.” (HR. Muslim).

Disadur secara ringkas dari buku 13 Penawar Racun kemaksiatan
terjemahan dari kitab Sabiilun najah min syu’mil ma’shiyyah)
karangan Muhammad bin Abdullah Ad-Duwaisy, terbitan Darul Haq, Jakarta.

SIKAP ISLAM TERHADAP ROKOK

Tinggalkan komentar


Sesungguhnya Allah ta’ala mengutus Nabi Muhammad dengan petunjuk-Nya dan agama yang hak, untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya dan membersihkan serta mensucikan hati mereka dari kotoran kekufuran dan kefasikan dan membebaskan mereka dari belenggu penghambaan kepada selain Allah ta’ala.

Dia (Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam) membersihkan manusia dari kesyirikan dan kehinaan kepada selain Allah dan memerintahkannya untuk beribadah hanya kepada Allah semata dengan merendahkan diri dan mencintai-Nya dan meminta serta memohon kepada-Nya dengan penuh harap dan takut.

Dia juga mensucikan manusia dari setiap kebusukan maksiat dan perbuatan dosa, maka dia melarang manusia atas setiap perbuatan keji dan buruk yang dapat merusak hati seorang hamba dan mematikan cahayanya dan agar menghiasinya dengan akhlak mulia dan budi perkerti luhur serta pergaulan yang baik untuk membentuk pribadi muslim yang sempurna. Maka dari itu dia menghalalkan setiap sesuatu yang baik dan mengharamkan setiap yang keji, baik makanan, minuman, pakaian, pernikahan dan lainnya.

Termasuk yang diharamkan karena dapat menghilangkan kesucian adalah merokok, karena berbahaya bagi fisik dan mengdatangkan bau yang tidak sedap, sedangkan Islam adalah (agama) yang baik, tidak memerintahkan kecuali yang baik. Seyogyanya bagi seorang muslim untuk menjadi orang yang baik, karena sesuatu yang baik hanya layak untuk orang yang baik, dan Allah ta’ala adalah Maha Baik tidak menerima kecuali yang baik.

Berikut akan kami kemukakan beberapa fatwa dari para ulama terkemuka tentang hukum rokok : “Merokok hukumnya haram, begitu juga memperdagangkannya. Karena didalamnya terdapat sesuatu yang membahayakan, telah diriwayatkan dalam sebuah hadits :
لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ أخرجه الإمام أحمد في المسند ومالك في الموطأ وابن ماجة
“ Tidak (boleh melakukan/menggunakan sesuatu yang) berbahaya atau membahayakan” (Riwayat Ahmad dalam Musnadnya, Malik dan Atturmuzi)

Demikian juga (rokok diharamkan) karena termasuk sesuatu yang buruk (khabaits), sedangkan Allah ta’ala (ketika menerangkan sifat nabi-Nya Shalallahu ‘alaihi wassalam) berfirman: “…dia menghalalkan bagi mereka yang baik dan mengharamkan yang buruk“ (Al A’raf : 157)

Panitia Tetap Lembaga Riset Ilmiah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia.
Ketua: Abdul Aziz bin Baz
Wakil Ketua: Abdurrazzak Afifi.
Anggota: Abdullah bin Ghudayyan –
Abdullah bin Quud.

“Merokok diharamkan, begitu juga halnya dengan Syisyah, dalilnya adalah firman Allah ta’ala: “Jangan kalian bunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah maha penyayang terhadap diri kalian “ (An-Nisa : 29)
“ Jangan kalian lemparkan diri kalian dalam kehancuran” (Al-Baqarah : 195)

Dunia kedokteran telah membuktikan bahwa mengkonsumsi barang ini dapat membahayakan, jika membahayakan maka hukumnya haram. Dalil lainnya adalah firman Allah ta’ala:
(وَلاَ تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمْ الَّتِى جَعَلَ اللهُ لَكُمْ قِيَامًا ( النساء : 5

“ Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan..” (An Nisa:5)
Kita dilarang menyerahkan harta kita kepada mereka yang tidak sempurna akalnya karena pemborosan yang mereka lakukan. Tidak diragukan lagi bahwa mengeluarkan harta untuk membeli rokok atau syisyah merupakan pemborosan dan merusak bagi dirinya, maka berdasarkan ayat ini hal tersebut dilarang.

Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam juga menunjukkan pelarangan terhadap pengeluaran harta yang sia-sia, dan mengeluarkan harta untuk hal ini (rokok dan syisyah) termasuk menyia-nyiakan harta. Rasulullah e bersabda:
{ لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ }

Syekh Muhammad bin Sholeh bin ‘Utsaimin
Anggota Lembaga Majlis Ulama Kerajaan Saudi Arabia

“Telah dikeluarkan sebuah fatwa dengan nomor: 1407, tanggal 9/11/1396H, dari Panitia Tetap Lembaga Riset Ilmiah dan Fatwa di Riyadh, sebagai berikut: “Tidak dihalalkan memperdagangkan rokok dan segala sesuatu yang diharamkam karena dia termasuk sesuatu yang buruk dan mendatangkan bahaya pada tubuh, rohani dan harta.

Jika seseorang hendak mengeluarkan hartanya untuk pergi haji atau menginfakkannya pada jalan kebaikan, maka dia harus berusaha membersihkan hartanya untuk dia keluarkan untuk beribadah haji atau diinfakkan kepada jalan kebaikan, berdasarkan umumnya firman Allah ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمِ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ اْلأَرْضِ وَلاَ تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيْهِ إِلاَّ أَنْ تُغْمِضُوا فِيْهِ (ألبقرة:267
“ Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (dijalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata darinya “ (Al Baqarah: 267)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “ Sesungguhnya Allah Maha Baik, tidak akan menerima kecuali yang baik “ (al Hadits)
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

(Dinukil dari : عفواً ممنوع التدخين Maaf, dilarang MEROKOK oleh Thalal bin Sa’ad Al ‘Utaibi)

Sebutan Gus,

Tinggalkan komentar


Seorang sahabat bertanya melalui pesan masuk padaku mengapa di tradisi di nadliyin ada sebutan gus untuk para putra kyai? Taman yang bertanya bener-beenr ndak paham karana dia seorang mualaf.Temenku bertanya terkait dengn kekagumannya saat menyasikan penghantaran jenazah GD.

Nahh atas pertanyaan itu saya ndak bisa menjawab secara riteratur. Saya hanya sampaikan Gus itu sebutan di Jawa yang bisa berarti mas atau kang. Gus itu bukan derajat dan pangkat. Gus itu berbeda dengan raden atau sebutan kebangasawanan lainnya. Di sekitar lingkungan pesantren para tetangga pesantren juga menyebut/memanggil gus pada para santri. Mereka mengetahui para santri itu berakhlak yang baik, sopan, tawadlu’, punya tata krama dan norma-norma agama. Makanya dipanngil Gus. Panggilan ini juga untuk menciptakan situasi yang familiar dan akrab. Justru sebenarnya dengn panggilan gus tiada jarak. Sama-sama hamba Allah yang harus jaga aklak, budi pekerti luhur dan agama.

Lebih dari itu panggilan tersebut untuk membiasakan agar kita tidak langsung panggil namanya.Apalagi terhadap putra guru dan murrobbi. Putra kyai itu putranya orang sholeh. Terkait keturunan orang sholeh, saya memiliki catatan di bawah ini. Saya lupa apakah catatanku ini hadits atau sekedar maqola atau pandangan ulama’.

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَحْفَظُ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ فِى وَلَدِهِ وَفِى وَلَدِ وَلَدِهِ

وَيَحْفَظُهُ فِى دُوَيْرَتِهِ وَفِى دُوَيْرَاتٍ حَوْلَهُ …

Sesungguhnya Allah Ta’ala yang Maha Mulia senantiasa menjaga anak dan cucu hambaNya yang beriman, Menjaga rumahnya dan rumah–rumah sekitarnya

Bagaimana Allah Ta’ala menjaga keturunan orang yang sholeh? Kita dapat bercermin dari kisah diutusnya nabi Hidhir. Allah Ta’ala mengutus nabi Hidhir untuk menegakkan kembali dinding yang hendak roboh milik dua anak yatim yang dulunya ayah mereka adalah seorang yang sholeh. Hal ini bisa kita pelajari dalam al Qur’an surat al Kahfi

“…kemudian kedua mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Hidhir menegakkan dinding itu…” QS al Kahfi: 77

“Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua orang anak yatim di kota itu dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua. Sedang ayah mereka adalah seorang yang sholeh…”QS al Kahfi: 82.

Keturunan orang sholeh dijaga oleh Allah Ta’ala. Tentu saja hal ini sangat-sangat wajar, mengapa? Yaaa karena orang-orang sholeh telah berinvestasi do’a dan amal serta kemaslahan bagi umatnya. Yaaa karena orang-orang sholeh telah yang mengajarkan ilmunya telah menghasilkan kader, generasi yang juga memberikan do’a dan amal serta kemaslahan bagi umatnya. Maka investasi dari para murid juga kembali ke orang sholeh dan keturunannya.

Terkait keberadaan orang sholeh disebutkan di al Qur’an Surat al Anbiya’ ayat 105

وَلَقَدْ كَتَبْـنَا فِى الزَّبُوْرِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ اْلأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُوْنَ

Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dijaga hamba-hambaKu yang saleh

Dari rahasianya Allah Ta’ala selalu menjaga orang yang sholeh dan kerutunanny. Tentu untuk menjaga bumi dan segala yang ada di dalamnya. Insya Allah demikian.

Refleksi, Rindu Rosulullah

Tinggalkan komentar


Napoleon Bonaparte adalah seorang petarung besar yang disebut Singa Perancis. Ia tidak kenal takut di medan perang. Ia amat mencintai negeri dan bangsanya. Dan senantiasa mengagung-agungkan bendera negaranya.

Tetapi, akhir nasibnya sangat mengenaskan. Ia ditangkap dan di buang ke pulau Elba, sebuah pulau kecil dan terpencil.
Disana Napoleon diserang penyakit malaria, yang tak kenal kasihan. Sakitnya parah dan tidak terobati.
Dalam sakaratul maut, nama siapakah yang diucap-ucap oleh pemimpin besar itu? Apakah bangsanya, negaranya, atau rakyatnya, yang konon sangat dicintainya?

Bukan…

Waktu mau mati Napoleon Bonaparte justru memanggil nama kekasih hatinya,
“Josephine…Josephine…”

Lalu, siapakah tidak mengenal Adolf Hitler, sang fuhrer dari jerman yang amat ditakuti?
Bila matanya menatap tajam, berarti darah mengalir. Bila telunjuknya menuding, berarti ratusan ribu manusia tidak berdosa di bantai di kamar gas. Bila mulutnya berteriak, berati ratusan bom meledak, menghancurkan gedung-gedung dan menimbulkan ratap tragis.

Ia mengaku paling jaya. Ia menganggap bangsanya kaum Aria adalah ras paling mulia.
Ia merasa berhak menyebarkan maut dan malapetaka.

Tetapi, apa yang terjadi pada waktu ia sudah di kalahkan dan bersembunyi di dalam sebuah bunker gelap kota Berlin? Apakah sebelum melakukan bunuh diri Hitler memeluk bendera swastika yang dipujanya? Apakah ia menyebut-nyebut negerinya dan bangsa jerman yang konon di cintainya?

Tidak.

Yang disebut-sebut namanya oleh Hitler, saat hendak nekat menembak dirinya adalah Eva Braun, Kekasihnya.

Tidak demikian yang tercatat dalam detik-detik penghabisan seorang pemimpin besar lainnya, NABI MUHAMMAD SAW. sang kekasih ALLOH, yang kedatangannya merupakan rahmat bagi semesta alam.

Waktu hendak wafat yang di seru-seru lewat bibirnya, yang keluar bukan anak tercintanya, Fatimah, bukan cucu-cucunya tersayang, dan bukan pula istrinya.

Rosululloh justru memanggil-manggil,
“Ya Alloh…Ummati…Ummati…”
(Ya Alloh…Umatku…Umatku…)

Dengan mengucap-ucap umatnya itulah beliau meninggalkan dunia yang fana ini.
Cintanya kepada umatnya dibawanya hingga ke liang lahat dan ke dalam alam keabadian…

Allohumma sholli ‘alaa Muhammad
Ya…Robbi sholli alaihi wassalim…
Allohumma sholli ‘alaa Muhammad
Ya…Robbi sholli alaihi wassalim…

“Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kaum kalian sendiri. Ia merasakan beratnya penderitaan kalian, sangat mendambakan (keimanan dan keselamatan) kalian, dan amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang beriman” (QS 9:128)

***************************************************

kawan… semuanya memanggil yang di cintai, begitu pula Rosululloh, mati dalam cinta kepada umatnya.

lalu, bagaimana dengan kita???

apakah bisa di sebut mencintai Rosululloh,
sedangkan bersholawat saja tidak ???

sesungguhnya orang yang yang sombong itu ialah ketika di sebut nama rosululloh, ia tidak bersholawat kepadanya.

Innalloha wa malaaikatu yushollu na’ alaannabiy ayyuhaa alladziina aamanuu sholluu ‘alayhi wasallimuu tasliimaa…

Sesungguhnya Alloh dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (AL AHZAB ayat 56)

***********************************************

Thola’al badru ‘alayna…
Min-tsaniyyatil wada’
(telah muncul rembulan kepada kami, dari bukit wada’ )

Wajabasy syukru ‘alayna
Ma da’a lillahi da’

(Wajiblah kita bersyukur
selama ada seseorang yang menyeru ke jalan Alloh)

Ayyuhal mab’u-tsu fiina.
Ji’ta bil amril mutho’
Anta ghow-tsuna jami’a.
Ya mujammalath thiba’

(Wahai rasul yang diutuskan ke atas kami
Engkau datang membawa kebaikan untuk kami taati
Engkau adalah penolong kami (pemberi syafaat)
Wahai nabi yang mempunyai berbudi pekerti)

Anta syamsun, anta badrun, anta nurun fauqo nuur
(Engkau bagaikan matahari, engakau bagaikan bulan purnama, cahaya di atas cahaya)

Anta Iksiru Wagholi , Anta Misbahush Shudur
(Engkau bagaikan emas yang mahal harganya, Engkaulah pelita yang menerangi seluruh hati)

Wortel , Telur dan Kopi

Tinggalkan komentar


Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panic pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam
dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?” “Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?” Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi
kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing- masing menunjukkan reaksi yang berbeda.

Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak.

Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras.

Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut. “Kamu termasuk yang mana?,” Tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?”

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.

Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?

Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat. Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.

=================================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi, Idea Press, Yogyakarta. Hal. 23-24. ISBN 978-6028-686-402.

Dosa-dosa yang Dianggap Biasa

Tinggalkan komentar


Dosa-dosa  yang Dianggap Biasa

1. Syirik kepada Allah

Syirik adalah menyekutukan Allah dengan sesuatu selain-Nya. Syirik  merupakan dosa besar yang paling besar, kemungkaran yang paling mungkar bahkan Allah I mengancam tidak akan  mengampuni dosa syirik (apabila seseorang tersebut mati dalam keadaan berbuat syirik) dan akan mengampuni dosa selainnya bagi siapa yang dikehendaki,  Allah  I berfirman:

”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni segala dosa selain dari (Syirik) itu, bagi siapa yang dikendaki (Q.S. An-Nisa : 48)

Perbuatan syirik merupakan perbuatan yang diharamkan oleh Allah I dan merupakan dosa yang paling besar, Rasullullah r bersabda “maukah aku kabarkan kepada kalian tentang dosa besar yang paling besar (beliau mengulangnya 3x), mereka (sahabat) berkata: “Ya, wahai Rasulullah!” Beliau bersabda “menyekutukan Allah (Syirik)” (Mutafaq Alaih)

Namun sebagian kaum muslimin, membiasakan dan membudayakan serta menganggapnya sebagai ibadah, perbuatan tersebut seperti : meminta kepada ahli kubur (penghuni kuburan yang dianggap wali),  bernadzar untuk selain Allah I, mengharapkan berkah dari pohon, batu dan sejenisnya, meminta perlindungan kepada selain Allah I, Istigatsah atau berdoa kepada selain Allah I, menggunakan zimat-zimat dengan anggapan bahwa zimat tersebut dapat menolak bahaya, meminta kepada dukun dan lain-lain yang semua ini telah diharamkan dalam Islam. Maka dari itu kami mewasiatkan kepada kaum muslimin agar berhati-hati terhadap perbuatan tersebut tetapi apabila kita telah terjerumus dalam perbuatan syirik maka, harus segera untuk bertaubat kepada Allah I dan memohon ampun kepada-Nya

2. Riya’ dalam ibadah

Riya adalah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia agar mereka memuji pelakunya, seperti memperindah sholat, menceritakan tentang amal-amal yang pernah dilakukannya dengan maksud agar orang yang mendengarnya memujinya.

Perbuatan riya’ adalah perbuatan yang sangat dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Bahkan perbuatan tersebut termasuk salah satu perbuatan syirik (syirik kecil) yang dapat menghapus semua amal kebaikan yang disertai riya’ tersebut.    Allah I berfirman:

“Dan apabila mereka hendak sholat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan sholat) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali hanya sedikit sekali (Q.S. An-Nisa : 142).

Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan  dari Abu Sa’id secara marfu’, bahwa Rasulullah r bersabda “Maukah  aku beritahukan kalian tentang sesuatu yang menurutku lebih aku khawatirkan bagi kalian daripada Al-Masih Ad-Dajjal. Para Sahabat menjawab: “Ya, wahai Rasulullah, Beliau bersabda, “syirik tersembunyi (Riya), yaitu ketika sesorang berdiri melakukan sholat, dia perindah sholatnya itu karena ada orang lain yang melihatnya” (H.R. Ahmad).

Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dalam shahihnya dari Mahmud bin Labid. Ia berkata bahwa Rasulullah r keluar lalu bersabda “wahai orang-orang! Jauhilah olehmu syirik tersembunyi” Para sahabat berkata “Wahai Rasulullah! Apa syirik tersembunyi itu? Beliau bersabda “Syirik tersembunyi, yaitu ketika seseorang berdiri melalukan sholat, dia perindah sholatnya itu karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya, itulah syirik tersebunyi.

3. Thiyarah

Thiyarah adalah merasa bernasib sial atau meramal nasib baik atau buruk karena melihat burung, binatang lainnya atau apa saja. Allah I berfirman:

”Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata “ini adalah karena (usaha) kami” dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang besertanya (Q.S. Al-A’raaf :131). Perbuatan tersebut oleh Nabi r dianggap perbuatan syirik yang dapat mengurangi kesempurnaan tauhid dan ini merupakan dosa besar, Rasulullah r bersabda “ Thiyarah adalah syirik (H.R. Ahmad, 1/389, lihat Shahihul Jami’ no. 3955).

Orang yang sudah terjerumus dalam melakukan hal tersebut diatas, hendaklah membayar kafarat sebagaimana yang dituntunkan oleh Nabir, Abdullah bin Amar berkata, Rasulullah r bersabda :“Barangsiapa yang percaya dengan thiyarahnya sehingga ia mengurungkan hajatnya (yang hendak dilakukan) maka dia telah melakukan perbuatan syirik” mereka bertanya “wahai Rasulullah, apa kafarat (tebusan) dari padanya? “Beliau r bersabda, “Hendaknya salah seorang dari mereka mengatakan, “Ya Allah tiada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiada kesialan kecuali kesialan dari Engkau dan tidak ada sembahan yang hak selain Engkau” (H.R. Ahmad 2/220, As-Silsilah Ash-Shahihah no. 1065).

4. Bersumpah dengan nama selain Allah

Sumpah adalah salah satu bentuk penganggungan, karenanya tidak layak diberikan melainkan hanya kepada AllahI. Dalam sebuah hadits marfu’ dari ibnu Umar diriwayatkan: “Ketahuilah, sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan nama nenek moyangmu. Barangsiapa bersumpah hendaknya ia bersumpah dengan nama Allah atau diam” (H.R. Bukhari).

Oleh karena itu tidak dibenarkan seseorang untuk bersumpah dengan nama selain nama Allah, misalnya bersumpah dengan kemuliaan Nabi, para wali, nenek moyang, demi ka’bah, dan lain-lain, semua hal tersebut adalah haram, tetapi Allah telah memberikan solusi melalui rasul-Nya, apabila seseorang terjerumus melakukan sumpah tersebut, maka membayar kafarat yaitu dengan membaca Laa Ilaaha Illallah, sebagaiman tersebut dalam hadits shahih: “Barangsiapa bersumpah, kemudian dalam sumpahnya ia berkata demi Lata dan ‘Uzza, maka hendaknya ia mengucapkan “Laa Ilaaha Illallah” (H.R. Bukhari).

5. Duduk bersama Orang-Orang Munafik atau Fasik untuk beramah tamah

Banyak diantara kaum muslimin sadar atau tidak sadar sengaja bergaul dengan sebagian orang fasik dan ahli maksiat, bahkan mungkin juga bergaul dengan orang yang menghina atau melencehkan syariat Islam (orang kafir dan munafiq). Tidak diragukan lagi, perbuatan semacam ini adalah perbuatan yang diharamkan, sebagaiman Allah I berfirman:

Dan apabila kamu melihat orang-orang yang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu) (Q.S. Al-An’am : 68)

6. Tidak tuma’ninah dalam sholat

Tuma’ninah adalah diam beberapa saat sehingga tenang anggota badan. Para ulama memberi  batasan sekedar waktu yang diperlukan untuk membaca tasbih. Misalnya dengan tidak meluruskan punggung saat ruku’ dan sujud,  tidak tegak ketika bangkit dari ruku’ dan sujud, semuanya merupakan kebiasaan yang sering dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, apabila seseorang melakukan hal tersebut maka tidak sah sholatnya, Rasulullah r bersabda: “Tidak sah sholat seorang, sehingga ia meluruskan punggungnya ketika ruku’ dan sujud” (H.R. Abu Daud 1/533, lihat Shahihul Jami’ hadits no. 7224). Rasullulah r menggabarkan diantara kejahatan pencuri yang paling besar adalah mencuri dalam sholat sebagaimana sabdanya :“Sejahat-jahat pencuri adalah orang yang mencuri dalam sholatnya” mereka (Sahabat) bertanya “ bagaimana ia mencuri dari sholatnya? Beliau menjawab “tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya” (H.R. Ahmad, 5/310 dan lihat Shahihul Jami’ hadits no. 997). Tak diragukan lagi, ini suatu kemungkaran, yang pelakunya harus dinasehati dan diperingatkan akan ancaman Allah dalam melakukan hal tersebut.

7. Mendahului Imam secara sengaja dalam sholat.

Dalam sholat berjamaah sadar atau tidak sadar, banyak orang yang mendahului imam baik dalam hal ruku’, sujud bahkan mendahului imam dalam salam, perbuatan ini dianggap remeh oleh sebagian besar umat Islam, oleh karena itu Rasulullah r mengingatkan dengan ancaman yang keras sebagaimana sabdanya: “Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, akan dirubah oleh Allah kepalanya menjadi kepala keledai” (H.R. Muslim).

Para sahabat sangat berhati-hati sekali untuk tidak mendahului Nabi r. Salah seorang sahabat bernama Al-Barra’ bin Azib berkata: “Sungguh mereka (para sahabat) sholat dibelakang Nabi r, maka jika beliau r turun sujud, saya tidak pernah melihat salah seorangpun yang membungkukkan punggungnya, sehingga Rasulullah r meletakkan keningnya diatas tanah, lalu orang yang ada dibelakangnya bersimpuh sujud (bersamaan) (H.R. Muslim), dan ketika Rasulullah r mulai uzur (lanjut usia) dan gerakannya tampak pelan, beliau r tetap mengingatkan orang-orang yang sholat dibelakangnya dengan sabdanya “Wahai sekalian manusia, sungguh aku telah lanjut usia, maka janganlah kalian mendahuluiku dalam ruku’ dan sujud (H.R. Al-Baihaqi 2/93 dan dihasankan oleh al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil, 2/290)

8. Masuk masjid sehabis makan bawang merah, bawang putih atau sesuatu yang berbau tak sedap

Barangsiapa     yang     memakan bawang merah atau bawang putih yang mentah atau sesuatu yang mendatangkan bau yang dapat mengganggu konsentrasi orang  sholat maka hendaklah jangan datang ke masjid  dan diam dirumahnya itulah yang lebih baik baginya kecuali apabila telah hilang baunya. Rasulullah r bersabda “barangsiapa makan bawang putih atau bawang merah hendaklah ia menjauhi kami. Dalam riwayat lain disebutkan, hendaknya ia menjauhi masjid kami dan diam di rumahnya (H.R. Bukhari lihat Fathul Bari, 2/339). Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan, Suatu ketika, Umar bin Khatab berhutbah jum’at dalam hutbahnya ia berkata “…kemudian kalian wahai manusia, memakan dua pohon yang aku tidak memandangnya, kecuali dua hal yang buruk (baunya) yaitu bawang merah dan bawang putih, sungguh aku melihat Rasululah r apabila mendapatkan bau keduanya dari seseorang di dalam masjid, beliau memerintahkan orang tesebut keluar ke padang luas. Karena itu, barangsiapa memakannya hendaknnya mematikan bau keduanya dengan memasaknya (H.R. Muslim, 1/396).

Termasuk dalam hal ini adalah mereka yang langsung ke dalam masjid usai bekerja, lalu ketiak dan kaos kakinya menebarkan bau tak sedap, dan lebih buruk dari itu adalah orang-orang yang membiasakan merokok yang hukumnya telah diharamkan oleh kebanyakan ulama kemudian mereka masuk ke masjid dan menebarkan bau yang mengganggu hamba Allah I yang lainnya, bahkan sebagian dari mereka tanpa merasa malu dan berdosa merokok di dalam masjid

9. Jabat tangan dengan wanita yang bukan mahram

Pada zaman sekarang jabat tangan antara laki-laki dan perempuan hampir sudah merupakan tradisi, bahkan diangap sebagai sesuatu yang lumrah. Kalau mereka melihat dengan jernih persoalan tersebut menurut syara’ tentu mereka tidak akan melakukannya, Rasulullah r bersabda “Sungguh ditusukkan kepala salah seorang dari kalian dengan jarum dari besi lebih baik baginya dari pada ia menyentuh wanita yang tidak halal” (H.R. Ath-Tabrani lihat Shahihul jami’ hadits no. 4921).

Tak diragukan lagi bahwa perbuatan semacam itu termasuk zina tangan, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah r “Kedua mata berzina, kedua tangan berzina, kedua kaki berzina dan kemaluanpun berzina” (H.R. Ahmad, 1/412, Shahihul Jami’ hadits no. 4126). Dan adakah orang yang hatinya lebih bersih dari Rasulullah r  karena beliau r  sendiri tidak pernah menyentuh tangan wanita sebagaimana salah satu hadits dari ‘Aisyah ra dia berkata “Dan demi Allah, sungguh tangan Rasulullah r tidak (pernah) menyentuh tangan perempuan sama sekali (selain mahramnya-red), tetapi Beliau membai’at mereka dengan perkataan” (H.R. Muslim, 3/1489).

Cara mengatasi kebosanan Hidup ?

1 Komentar


semngat danboBismillahirahmanirahim
sahabatku semua yang dirahamti Allah, sebuah kisah menarik saya sajikan untukmu…………………….

Seorang pria mendatangi Sang Guru, “Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati”.
Sang Guru tersenyum, “Oh, kamu sakit”. “Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan ini. Itulah sebabnya saya ingin mati”. Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya. Sang Master meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan”.
Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, dan yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak menyadari tentang sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita…
“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjuk-ku”. Demikian Sang Master menyarankan.
“Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh”. Tidak, saya tidak ingin hidup.” pria itu menolak tawaran Sang Guru.
“Jadi kamu tidak ingin sembuh?? “ Kamu betul-betul ingin mati?” tanya Sang Guru
“Ya, memang saya sudah bosan hidup”, pria itu kukuh menjawab.
“Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.” Perintah Sang Guru. Giliran pria tersebut bingung. Setiap Guru yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh Sang Guru EDAN itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai !!!
Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah. Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarganya di restoran Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir ini malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya pun menjadi santai banget !
Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, “Sayang, aku mencintaimu. “Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis !!”
Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis !!!
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Boss kita kok aneh ya ?” Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis !!
Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.” Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Pi, maafkan kami semua. Selama ini, Papi selalu stres karena perilaku kami.” Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya ?

Ia mendatangi Sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya Sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi, “Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh?? Apa bila kau hidup dalam ke-kini-an, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan ini !!!
Leburkan egomu, leburkan keangkuhanmu, leburkan kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air, dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan pernah jenuh, tidak akan pernah bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan”..
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam ke-kini-an. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP !!!
…………….
Hidup bukanlah merupakan suatu beban yang harus dipikul tapi merupakan suatu anugerah untuk dinikmati. “Anda tidak akan pernah menang jika Anda tidak pernah memulai.”

=================================================
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi, Idea Press, Yogyakarta. pp. 11-16. ISBN 978-6028-686-402.

semoga bermanfaat.

Semut dan Capung

Tinggalkan komentar


Seekor semut yang pikirannya tersusun dalam rencana teratur,
sedang mencari-cari madu ketika seekor capung hinggap
menghisap madu dari bunga itu. Capung itu melesat pergi
untuk kemudian datang kembali.

Kali ini Si Semut berkata,

“Kau ini hidup tanpa usaha, dan kau tak punya rencana.
Karena kau tak punya tujuan nyata ataupun kira-kira, apa
pula ciri utama hidupmu dan kapan pula berakhir?”

Kata Si Capung,

“Aku bahagia, dan aku mencari kesenangan, ini jelas ada dan
nyata. Tujuanku adalah tanpa tujuan. Kau boleh merencanakan
sekehendakmu; kau tak bisa meyakinkanku bahwa ada yang lebih
berharga daripada yang kulakukan ini. Kaulaksanakan saja
rencanamu, dan aku rencanaku.”

Semut berpikir,

“Yang tampak padaku ternyata tak tampak olehnya. Ia tahu apa
yang terjadi pada semut. Aku tahu apa yang terjadi pada
capung. Ia laksanakan rencananya, aku laksanakan rencanaku.”

Dan semutpun berlalu, sebab ia telah memberikan teguran
sebaik-baiknya dalam masalah itu.

Beberapa waktu sesudah itu, mereka pun bertemu lagi.

Si Semut menemukan kedai tukang daging, dan ia berdiri di
bawah meja tumpuan daging dengan bijaksana, menunggu saja
apa yang mungkin datang padanya.

Si Capung, yang melihat daging merah dari atas, menukik dan
hinggap diatasnya. Pada saat itu pula, parang tukang daging
berayun dan membelah capung itu menjadi dua.

Separoh tubuhnya jatuh di lantai dekat kaki semut itu.
Sambil menangkap bangkai itu dan mulai menyeretnya ke
sarang, semut itu berkata kepada dirinya sendiri.

“Rencananya tamat sudah, dan rencanaku terus berjalan. Ia
laksanakan rencananya -sudah berakhir, Aku laksanakan
rencanaku -mulai berputar. Kebanggaan tampaknya penting,
nyatanya hanya sementara. Hidup memakan, berakhir dengan
dimakan. Ketika aku katakan hal ini, yang mungkin
dipikirkannya adalah bahwa aku suka merusak kesenangan orang
lain.”

Catatan

Kisah yang hampir serupa ditemukan juga dalam karya Attar,
Kitab Ketuhanan, meskipun penerapannya agak berbeda. Versi
ini dikisahkan oleh seorang darwis Bokhara dekat makam
Al-Syah, yakni Bahaudin Naqsibandi, enam puluh tahun yang
lalu. Sumbernya adalah buku catatan seorang Sufi yang
disimpan dalam Masjid Agung di Jalalabad.

1 Tamparan menjawab 3 Pertanyaan

Tinggalkan komentar


Alkisah dalam negeri inspirasi ada seorang anak yang telah lama menuntut ilmu berkelana ke sebuah negeri satu ke negeri lain.

Suatu hari anak itu pulang ke rumahnya, dengan lagak yang sombong dia melarang orang tuanya memeluk dirinya menyambut kedatangannya, betapa sakit orang tuanya ketika sang anak bertingkah seperti itu, anak yang di tunggu-tunggu sekian lama ternyata berbuat sadis terhadap mereka, sang anak berkata lantang kepada orang tuanya,

” Wahai ayah…. ibu…. aku takkan menerima pelukan kalian dan aku akan keluar dari agama yang kalian ajarkan kepadaku apa bila kalian tak mampu menjawab pertanyaanku.” kata sang anak.

Orang tuanya menjawab, ” Mengapa kau seperti itu anakku ? Mengapa kau berubah setelah pergi dari kami ? Baiklah apa pertanyaa itu wahai anakku ? ”

” Ada 3 pertanyaan yang harus kalian jawab,
1. kalau tuhan itu ada bisakah kalian tunjukkan dimana Tuhan itu ?
2. Apakah yang dinamakan takdir?
3. Kalau syaitan diciptakan dari api, mengapa Tuhan memasukkannya ke dalam neraka, tentu tidak menyakitkan buat syaitan, sebab mereka mempunyai unsur yang sama dengan api. Apakah Tuhan tidak berfikir sejauh itu? alangkah naif Tuhan itu.” tanya sang anak.

Karena merasa tidak mampu menjawab, sang ayah membawa sang anak kepada syekh ayah waktu mencari ilmu dulu.

Setelah sampai pada tempat yang di tuju, sang anak dengan sombongnya kembali menanyakan pertanyaan yang tadi kepada syekh.

” Oh begitu……… hmmmmm…ya ya ya…..” jawab Syekh, datar penuh wibawa.

Seketika itu juga sang syekh menampar anak, ” Plak……..”

Sang anak kaget, ” Mengapa kau menamparku wahai orang, apakah karena kau tak bisa menjawab pertanyaanku lantas kau menamparku…? ” tanya sang anak.

Syekh tersenyum melihat anak marah, ” He…he…he…. tamparanku adalah jawaban dari pertanyaanmu….!!! ” jawab syekh.

” Apa kau bilang…..???? tamparan kau bilang jawaban…??? alangkah bodoh kau ini, percuma aku bertanya hal yang selama ini aku cari.” kata sang anak.

Sang syekh dengan tenang menjawab, ” Kau yang bodoh….!!! tidakkah kau gunakan otakmu untuk berfikir ? ”

Sang anak bingung mendangar ucapan Syekh, ” Maksudmu…….??? ”

” Kau yang bodoh, apakah yang kau rasakan dari tamparanku…? ” tanya syekh.

” Ya jelas sakit, bodoh sekali kau ini ” jawab sang anak kesal.

” Begitukah…? Bisakah kau tunjukkan rasa sakit itu di hadapanku…? tanya syekh.

” Kau bodoh orang, mana ada rasa sakit bisa diwujudkan….? ”

Syekh menjawab tenang,

” Kau yang bodoh, kau menyuruh aku menghadirkan tuhan yang jelas tak mungkin bisa di lakukan semua makhluk di alam semesta ini, sedangkan kau hanya ku suruh menunjukkan rasa sakit saja kau tak mampu, begitupun halnya aku. ” jawab sang syekh.

Sang anak tertunduk mendengar jawaban syekh.

“jawaban yang kedua.” Lanjut syekh,” apakah kau akan mengatahui kalau tadi aku akan menamparmu ? ” tanya syekh.

Dengan sombong sang anak menjawab, ” Mana aku tau kau akan menamparku, kau gila ya….?”

” Itulah takdir, coba kau gunakan otakmu untuk berfikir, takdir adalah sesuatu perkara yang tak tau kapan datangnya, hanya tuhanlah yang tau akan takdir seorang manusia, kita sebagai manusia hanya mampu berharap pada tuhan agar diberi takdir yang baik dengan berdo’a.”

” Yang ketiga, tidakkah kau pikir tanganku ini terbuat dari kulit, tentunya pipimu juga terbuat dari kulit, antara tanganku dan pipimu mempunyai unsur yang sama, yaitu sama-sama kulit, tidakkah kau berfikir syaitan akan lebih menerima sakit dalam api neraka…? sepeti halnya tamparan ku tadi, tentunya syaitan akan lebih dari ini…Sekarang siapa yang bodoh hayo…..?? ” Jawab syekh tenang..

Sang anak diam…. ia menangis dan meminta maaf kapada orang tuanya serta syekh, ia mengakui bahwa diatas orang pintar ternyata ada yang lebih pintar, yaitu Sang Maha Pintar.

MAUIDHOH…..

Subhanallah….. Ternyata sombong adalah penyakit yang sangat menakutkan, orang bisa apa saja kalau dia sombong, dalam hadits qudsi diterangkan bahwa sombong adalah selendang Allah, kita makhluk Nya yang kecil dan lemah, tak sepatutnya bersifat sombong, dan kita diciptakan Allah untuk berfikir, seperti dalam Al-Qur’an di jelaskan, Afalaa yatafakkaruun….? afalaa ta’qiluun…? ada banyak ayat yang seperti itu dalam al qur’an. mari bersama kita ubah sifat kita menjadi lebih baik…

” Bisakah kalian menciptakan sesuatu dari apa-apa yang taidak dari Ku? ” itulah tantangan Allah kepada orang yang bersifat sombong.

Astaghfirillah…..Ighfirlii yaa Allah….. Amiiiin

Kisah seorang siswi di Palestina

Tinggalkan komentar


Ini adalah kisah tentang seorang siswi di sebuah sekolah putri di Palestina. Hari itu dewan sekolah berkumpul seperti biasanya. Di antara keputusan dan rekomendasi yang dikeluarkan dewan dalam pertemuan ini adalah pemeriksaan mendadak bagi siswi di dalam aula. Dan benar, dibentuklah tim khusus untuk melakukan pemeriksaan dan mulai bekerja. Sudah barang tentu, pemeriksaan dilakukan terhadap segala hal yang dilarang masuk di lingkungan sekolah seperti hand phone berkamera, foto-foto, gambar-gambar dan surat-surat cinta serta yang lainnya.

Keamanan saat itu nampak normal dan stabil, kondisinya sangat tenang. Para siswi menerima perintah ini dengan senang hati. Mulailah tim pemeriksa menjelajah semua ruangan dan aula dengan penuh percaya diri. Keluar dari satu ruangan masuk ke ruangan lainnya. Membuka tas-tas para siswi di depan mereka. Semua tas kosong kecuali berisi buku-buku, pena dan peralatan kebutuhan kuliah lainnya. Hingga akhirnya pemeriksaan selesai di seluruh ruangan kecuali satu ruangan. Di situlah bermula kejadian. Apakah sebenarnya yang terjadi ???

Tim pemeriksa masuk ke ruangan ini dengan penuh percaya seperti biasanya. Tim meminta izin kepada para siswi untuk memeriksa tas-tas mereka. Dimulailah pemeriksaan.

Saat itu di ujung ruangan ada seorang siswi yang tengah duduk. Dia memandang kepada tim pemeriksa dengan pandangan terpecah dan mata nanar, sedang tangannya memegang erat tasnya. Pandangannya semakin tajam setiap giliran pemeriksaan semakin dekat pada dirinya. Tahukah anda, apakah yang dia sembunyikan di dalam tasnya ???

Beberapa saat kemudian tim pemeriksa memeriksa siswi yang ada di depannya. Dia pun memegang sangat erat tasnya. Seakan dia mengatakan, demi Allah mereka tidak akan membuka tas saya. Dan tiba lah giliran pemeriksaan pada dirinya. Dimulailah pemeriksaan.

Tolong buka tasnya anakku, kata seorang guru anggota tim pemeriksa. Siswi itu tidak langsung membuka tasnya. Dia melihat wanita yang ada di depannya dalam diam sambil mendekap tas ke dadanya. Barikan tasmu, wahai anakku, kata pemeriksa itu dengan lembut. Namun tiba-tiba dia berteriak keras: tidak tidak tidak

Teriakan itu memancing para pemeriksa lainnya dan merekapun berkumpul di sekitar siswi tersebut. Terjadilah debat sengit: berikan tidak berikan tidak

Adakah rahasia yang dia sembunyikan? ?? Dan apa yang sebenarnya terjadi???

Maka terjadilah adegan pertarungan tangan untuk memperebutkan tas yang masih tetap berada dalam blockade pemiliknya. Para siswi pun terhenyak dan semua mata terbelalak. Seorang dosen wanita berdiri dan tangannya diletakan di mulutnya. Ruangan tiba-tiba sunyi. Semua terdiam. Ya Ilahi, apakah sebenarnya yang ada di dalam tas tersebut. Apakah benar bahwa si Fulanah (siswi) tersebut .

Setelah dilakukan musyawarah akhirnya tim pemeriksa sepakat untuk membawa sang siswi dan tasnya ke kantor, guna melanjutkan pemeriksaan yang barang kali membutuhkan waktu lama

Siswi tadi masuk kantor sedang air matanya bercucuran bagai hujan. Matanya memandang ke arah semua yang hadir di ruangan itu dengan tatapan penuh benci dan marah. Karena mereka akan mengungkap rahasia dirinya di hadapan orang banyak. Ketua tim pemeriksa memerintahkannya duduk dan menenangkan situasi. Dia pun mulai tenang. Dan kepala sekolah pun bertanya, apa yang kau sembunyikan di dalam tas wahai anakku ?

Di sini, dalam saat-saat yang pahit dan sulit, dia membuka tasnya. Ya Ilahi, apakah gerangan yang ada di dalamnya??? Bukan. Bukan. Tidak ada sesuatu pun yang dilarang ada di dalam tasnya. Tidak ada benda-benda haram, hand phone berkamera, gambar dan foto-foto atau surat cinta. Demi Allah, tidak ada apa-apa di dalamnya kecuali sisa makanan (roti). Ya, itulah yang ada di dalam tasnya.

Setelah ditanya tentang sisa makanan yang ada di dalam tasnya, dia menjawab, setelah menarik nafas panjang.

Ini adalah sisa-sisa roti makan pagi para siswi, yang masih tersisa separoh atau seperempatnya di dalam bungkusnya. Kemudian saya kumpulkan dan saya makan sebagiannya. Sisanya saya bawa pulang untuk keluarga saya di rumah Ya, untuk ibu dan saudara-saudara saya di rumah. Agar mereka memiliki sesuatu yang bisa disantap untuk makan siang dan makan malam. Kami adalah keluarga miskin, tidak memiliki siapa-siapa. Kami bukan siapa-siapa dan memang tidak ada yang bertanya tentang kami. Alasan saya untuk tidak membuka tas, agar saya tidak malu di hadapan teman-teman di ruangan tadi.

Tiba-tiba suara tangis meledak ruangan tersebu. Mata semua yang hadir bercucuran air mata sebagai tanda penyesalan atas perlakukan buruk pada siswi tersebut.

Ini adalah satu dari sekian banyak peristiwa kemanusiaan yang memilukan di Palestina. Dan sangat mungkin juga terjadi di sekitar kehidupan kita. Kita tidak tahu, barang kali selama ini kita tidak peduli dengan mereka. Doa dan uluran tangan kita, setidaknya bisa sedikit meringankan penderitaan mereka. Khususnya saudara-saudara kita di Palestina yang hingga kini terus dilanda tragedi kemanusiaan akibat penjajahan Zionis Israel . (infopalestina)

Bukan KALAM ( Cerita Lucu Akibat Ceroboh dalam beraqidah)

Tinggalkan komentar


Sebut saja Kang Bangkak, ketika dia Thowaf tiba2 dia menangis sesenggukan, kian lama tangisnya pun kian menggetarkan seluru badannya, yaa tangisan yg hebat.

Betapa itu sangat mengusik perhatian Mbah Lalar, alangkah hebat Khauf dn Kekusyuan orang ini. Dalam hati Mbah Lalar timbul berbagai macam pertanyaan, kenapa aku tidak bisa seperti orang ini? alangkah kerasnya hatiku, Istighfar, Doa dn Solawat andalan pun meluncur dari bibirnya namun tak satupun mengakibatkan jatuhnya airmata.

Semakin kagum, ya sangat kagum dg orang yg mudah menangis, meratap dn menyesali dosa dosa, iri dg hal yg demikian adalah wajar, dan bahkan harus di usahakan.

Teringat akan tausiyyah dr siaran radio swasta yg di smpaikan oleh Entah Kyai atau Ustadl siapa, Mbah Lalar semakin tercenung menyesali diri. “Menangislah karena takut Allah, jika tidak bisa menangis karenanya, menangislah karena dosa2mu, jika dosa2mu tidak juga membuat kamu menangis, menangislah karena kamu tidak bisa menangis, karena itu adalah tanda orang yg tertutup hatinya oleh dinding dosa2 dn itu adalah pertanda kecelakaanmu”

Hanya beberapa tetes airmata yg jatuh, ketika Mbah Lalar merenungi Nasihat di atas, tapi lumayan lah. Kembali dia peratikan Kang Bangkak yg tenggelam dalam tangis, dn setelah usai dalam Towafnya, di hampirinya Kang Bangkak yg masih sibuk mengusap air matanya.

Dg penuh rasa kagum dn sekaligus meratap harap, Mbah Lalar membuka kata, Barokallah……. Anda sungguh membikin iri hatiku. Apa yg membuat Mbah Lalar iri? tanya Kang Bangkak. Aku lihat Anda menangis begitu Hebat ketika Thowaf tadi. Apa rahasianya seingga Anda begitu Kusyu; dn mudah melakukan itu? tanya Mba Lalar. Mendengar pertanyaan itu, Kang Bangkak tiba2 menunduk dn menangis kembali. Dg sura gemetar dia menjawab ” Ketika aku Thowaf tadi, aku bayangkan Allah sedang bertengger di atas Ka’bah, itulah yg membuat hatiku tenggelam dalam pengagungan dan harapan akan di kabulkan segala permintaanku”.

Mendengar jawaban itu, Mbah Lalar tidak mampu menimpali perkataannya walaupun sepotong kata saja. Mbah Lalar cuma Mlongo dn termangu di buatnya. segera setelah beberapa saat terucaplah Istighfar yg terdorong dr dlm hati, persaan takut yg begitu mencekam, membuat Mbah Lalar benar2 menangis.

Setelah larut dalam kecamuk yg merindingkan sekujur badannya, perlahan dalam desah nafas yg kian teratur meluncur dalam putaran tasbih yg entah sudah berapa kali terulang “LAISA KAMISTLIHI SYAIUN”……………………………………………….

Kan sekarangpun sudah

Tinggalkan komentar


Di sebuah kampung nelayan, pada suatu pagi, seorang profesor bisnis yang sedang berlibur bertemu dengan seorang nelayan yang tengah membereskan hasil tangkapannya. Sang profesor tidak tahan untuk tidak menyapanya, “Hai, kenapa kamu selesai bekerja sepagi ini?” “Saya sudah menangkap cukup banyak ikan Pak,” jawab nelayan itu, “cukup untuk dimakan sekeluarga dan masih ada sisa untuk dijual.”

“Lalu, setelah ini kamu mau apa?” tanya profesor itu lagi. Jawab sang
nelayan, “Habis ini saya mau makan siang dengan istri dan anak-anak
saya, setelah itu tidur siang sebentar, lalu saya akan bermain dengan
anak-anak. Setelah makan malam, saya akan ke warung, bersenda gurau sambil bermain gitar bersama teman-teman.”

“Dengarkan kawan,” ujar sang profesor, “jika kamu tetap melaut sampai sore, kamu bisa mendapat dua kali lipat hasil tangkapan. Kamu bisa menjual ikan lebih banyak, menyimpan uangnya, dan setelah sembilan bulan kamu akan mampu membeli perahu baru yang lebih besar. Lalu, kamu akan bisa menangkap ikan empat kali lebih banyak. Coba pikir, berapa banyak uang yang bakal kamu dapat!”

Lanjut profesor, “Dalam satu dua tahun kamu akan bisa membeli satu kapal lagi, dan kamu bisa menggaji banyak orang. Jika kamu mengikuti konsep bisnis ini, dalam lima tahun kamu akan menjadi juragan armada nelayan yang besar. Coba bayangkan!”

“Kalau sudah sebesar itu, sebaiknya kamu memindah kantormu ke ibu kota. Beberapa tahun kemudian perusahaanmu bisa ‘go public’, kamu bisa jadi investor mayoritas. Dijamin, kamu akan jadi jutawan besar! Percayalah! Aku ini guru besar di sekolah bisnis terkenal, aku ini ahlinya hal-hal beginian!”

Dengan takjub, nelayan itu mendengarkan penuturan profesor yang penuh semangat itu. Ketika profesor selesai menjelaskan, sang nelayan bertanya, “Tapi Pak Profesor, apa yang bisa saya perbuat dengan uang sebanyak itu?”

Ups! Anehnya sang profesor belum memikirkan konsep bisnisnya sejauh itu. Cepat-cepat dia mereka-reka apa yang seseorang bisa lakukan dengan uang sebanyak itu.
“Kawan! Kalau kamu jadi jutawan, kamu bisa pensiun. Ya! Pensiun dini
seumur hidup! Kamu bisa membeli villa mungil di desa pantai yang indah seperti ini, dan membeli sebuah perahu untuk berwisata laut pada pagi hari. Kamu bisa makan bersama keluargamu setiap hari, bersantai-santai tanpa khawatir apa pun. Kamu punya banyak waktu bersama anak-anakmu, dan setelah makan malam kamu bisa main gitar dengan teman-temanmu di warung. Yeaaa, dengan uang sebanyak itu, kamu bisa pensiun dan hidupmu jadi mudah!

“Tapi, Pak Profesor, kan sekarangpun ini saya sudah bisa begitu…,” lirih sang nelayan dengan lugunya.

……………………………………………………………………………
Pesan Moral :
Kenapa kita percaya bahwa kita harus bekerja begitu keras dan menjadi kaya raya terlebih dahulu, baru kita bisa merasa berkecukupan? Apakah ada “tujuan yang lebih mulia” dari apa yang Anda lakoni saat ini? Apakah itu benar tujuan mulia atau sekadar dalih rasa takut untuk menjadi apa adanya? Untuk merasa berkecukupan, apa sekarang ini tidak bisa?

“NIKMATILAH HIDUP INI APAPUN ADANYA, kita wajib selalu BERSYUKUR KARENA NIKMAT DAN KARUNIA ALLAH”…

===========================================

Sudarmono, Dr. (2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 kisah sumber inspirasi. pp 90. Hafara

Rahasia Kaya dari Orang Sukses

2 Komentar


suksesbismillahirahmanirrahim

Berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, saya dipertemukan dengan hamba-Nya yang satu ini. Beliau adalah seorang leader yang selalu mengayomi, memberikan bimbingan, semangat, inspirasi, ide dan gagasan segar. Beliau ekoseorang pemimpin yang mampu menggerakkan ratusan hingga ribuan anak buahnya. Beliau seorang guru yang memiliki lautan ilmu, yang selalu siap ditimba oleh anak-anaknya dan bagai tiada pernah habis.

Saat ini beliau memiliki berbagai macam bidang usaha, di antaranya sebagai supplier dan distribusi alat dan produk kesehatan, puluhan hektar tambak, puluhan hektar ladang, berpuluh rumah kos, ruko, stand penjualan di mall, apartemen dan lain-lain. Pernah saya mencoba menghitung, penghasilan beliau bisa mencapai Rp 1 Milyar per bulannya. Sebuah pencapaian luar biasa bagi saya dan kebanyakan orang lain.

Pertemuan antara saya dan beliau yang saya ceritakan di bawah ini terjadi beberapa tahun yang lalu, di saat penghasilan beliau masih berkisar Rp 200 juta per bulan. Bagi saya, angka ini pun sudah bukan main dahsyatnya. Sengaja saya tidak menyebutkan namanya, karena cerita ini saya publish belum mendapatkan ijin dari beliau. Kita ambil wisdomnya saja ya.

Suatu hari, terjadilah dialog antara saya dengan beliau di serambi sebuah hotel di Bandung . Saya ingat, beliau berpesan bahwa beliau senang ditanya. Kalau ditanya, maka akan dijelaskan panjang lebar. Tapi kalau kita diam, maka beliau pun akan “tidur”. Jadilah saya berpikir untuk selalu mengajaknya ngobrol. Bertanya apa saja yang bisa saya tanyakan.

Sampai akhirnya saya bertanya secara asal, “Pak, Anda saat ini kan bisa dibilang sukses. Paling tidak, lebih sukses daripada orang lain. Lalu menurut Anda, apa yang menjadi rahasia kesuksesan Anda?”

Tak dinyana beliau menjawab pertanyaan ini dengan serius.

” Ada empat hal yang harus Anda perhatikan,” begitu beliau memulai penjelasannya.

RAHASIA PERTAMA

“Pertama. Jangan lupakan orang tuamu, khususnya ibumu. Karena ibu adalah orang yang melahirkan kita ke muka bumi ini. Mulai dari mengandung 9 bulan lebih, itu sangat berat. Ibu melahirkan kita dengan susah payah, sakit sekali, nyawa taruhannya. Surga di bawah telapak kaki ibu. Ibu bagaikan pengeran katon (Tuhan yang kelihatan).

Banyak orang sekarang yang salah. Para guru dan kyai dicium tangannya, sementara kepada ibunya tidak pernah. Para guru dan kyai dipuja dan dielukan, diberi sumbangan materi jutaan rupiah, dibuatkan rumah; namun ibunya sendiri di rumah dibiarkan atau diberi materi tapi sedikit sekali. Banyak orang yang memberangkatkan haji guru atau kyainya, padahal ibunya sendiri belum dihajikan. Itu terbalik.

Pesan Nabi : Ibumu, ibumu, ibumu… baru kemudian ayahmu dan gurumu.
Ridho Allah tergantung pada ridho kedua orang tua. Kumpulkan seribu ulama untuk berdoa. Maka doa ibumu jauh lebih mustajabah.” Beliau mengambil napas sejenak.

RAHASIA KEDUA

“Kemudian yang kedua,” beliau melanjutkan. “Banyaklah memberi. Banyaklah bersedekah. Allah berjanji membalas setiap uang yang kita keluarkan itu dengan berlipat ganda. Sedekah mampu mengalahkan angin. Sedekah bisa mengalahkan besi. Sedekah membersihkan harta dan hati kita. Sedekah melepaskan kita dari marabahaya. Allah mungkin membalas sedekah kita dengan rejeki yang banyak, kesehatan, terhindarkan kita dari bahaya, keluarga yang baik, ilmu, kesempatan, dan lain-lain.

Jangan sepelekan bila ada pengemis datang meminta-minta kepadamu. Karena saat itulah sebenarnya Anda dibukakan pintu rejeki. Beri pengemis itu dengan pemberian yang baik dan sikap yang baik. Kalau punya uang kertas, lebih baik memberinya dengan uang kertas, bukan uang logam. Pilihkan lembar uang kertas yang masih bagus, bukan yang sudah lecek. Pegang dengan dua tangan, lalu ulurkan dengan sikap hormat kalau perlu sambil menunduk (menghormat) . Pengemis yang Anda beri dengan cara seperti itu, akan terketuk hatinya, ‘Belum pernah ada orang yang memberi dan menghargaiku seperti ini.’ Maka terucap atau tidak, dia akan mendoakan Anda dengan kelimpahan rejeki, kesehatan dan kebahagiaan.

Banyak orang yang keliru dengan menolak pengemis yang mendatanginya, bahkan ada pula yang menghardiknya. Perbuatan itu sama saja dengan menutup pintu rejekinya sendiri.

Dalam kesempatan lain, ketika saya berjalan-jalan dengan beliau, beliau jelas mempraktekkan apa yang diucapkannya itu. Memberi pengemis dengan selembar uang ribuan yang masih bagus dan memberikannya dengan dua tangan sambil sedikit membungkuk hormat. Saya lihat pengemis itu memang berbinar dan betapa berterima kasihnya.

RAHASIA KETIGA

“Allah berjanji memberikan rejeki kepada kita dari jalan yang tidak disangka-sangka, ” begitu beliau mengawali penjelasannya untuk rahasia ketiganya. “Tapi sedikit orang yang tahu, bagaimana caranya supaya itu cepat terjadi? Kebanyakan orang hanya menunggu. Padahal itu ada jalannya.”

“Benar di Al Quran ada satu ayat yang kira-kira artinya : Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya diadakan-Nya jalan keluar baginya dan memberinya rejeki dari jalan/pintu yang tidak diduga-duga” , saya menimpali (QS Ath Thalaq 2-3).

“Nah, ingin tahu caranya bagaimana agar kita mendapatkan rejeki yang tidak diduga-duga? ,” tanya beliau.

“Ya, bagaimana caranya?” jawab saya. Saya pikir cukup dengan bertaqwa, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka Allah akan mengirim rejeki itu datang untuk kita.

“Banyaklah menolong orang. Kalau ada orang yang butuh pertolongan, kalau ketemu orang yang kesulitan, langsung Anda bantu!” jawaban beliau ini membuat saya berpikir keras. “Saat seperti itulah, Anda menjadi rejeki yang tidak disangka-sangka bagi orang itu. Maka tentu balasannya adalah Allah akan memberikan kepadamu rejeki yang tidak disangka-sangka pula.”

“Walau pun itu orang kaya?” tanya saya.

“Ya, walau itu orang kaya, suatu saat dia pun butuh bantuan. Mungkin dompetnya hilang, mungkin ban mobilnya bocor, atau apa saja. Maka jika Anda temui itu dan Anda bisa menolongnya, segera bantulah.”

“Walau itu orang yang berpura-pura? Sekarang kan banyak orang jalan kaki, datang ke rumah kita, pura-pura minta sumbangan rumah ibadah, atau pura-pura belum makan, tapi ternyata cuma bohongan. Sumbangan yang katanya untuk rumah ibadah, sebenarnya dia makan sendiri,” saya bertanya lagi.

“Ya walau orang itu cuma berpura-pura seperti itu,” jawab beliau. “Kalau Anda tanya, sebenarnya dia pun tidak suka melakukan kebohongan itu. Dia itu sudah frustasi karena tidak bisa bekerja atau tidak punya pekerjaan yang benar. Dia itu butuh makan, namun sudah buntu pikirannya. Akhirnya itulah yang bisa dia lakukan. Soal itu nanti, serahkan pada Allah. Allah yang menghakimi perbuatannya, dan Allah yang membalas niat dan pemberian Anda.”

RAHASIA KEEMPAT

Wah, makin menarik, nih. Saya manggut-manggut. Sebenarnya saya tidak menyangka kalau pertanyaan asal-asalan saya tadi berbuah jawaban yang begitu serius dan panjang. Sekarang tinggal satu rahasia lagi, dari empat rahasia seperti yang dikatakan beliau sebelumnya.

“Yang keempat nih, Mas,” beliau memulai. “Jangan mempermainkan wanita”.

Hm… ini membuat saya berpikir keras. Apa maksudnya. Apakah kita membuat janji dengan teman wanita, lalu tidak kita tepati? Atau jangan biarkan wanita menunggu? Seperti di film-film saja.

“Maksudnya begini. Anda kan punya istri, atau suami. Itu adalah pasangan hidup Anda, baik di saat susah maupun senang. Ketika Anda pergi meninggalkan rumah untuk mencari nafkah, dia di rumah menunggu dan berdoa untuk keselamatan dan kesuksesan Anda. Dia ikut besama Anda di kala Anda susah, penghasilan yang pas-pasan, makan dan pakaian seadanya, dia mendampingi Anda dan mendukung segala usaha Anda untuk berhasil.”

“Lalu?” saya tak sabar untuk tahu kelanjutan maksudnya.

“Banyak orang yang kemudian ketika sukses, uangnya banyak, punya jabatan, lalu menikah lagi. Atau mulai bermain wanita (atau bermain pria, bagi yang perempuan). Baik menikah lagi secara terang-terangan, apalagi diam-diam, itu menyakiti hati pasangan hidup Anda. Ingat, pasangan hidup yang dulu mendampingi Anda di kala susah, mendukung dan berdoa untuk kesuksesan Anda. Namun ketika Anda mendapatkan sukses itu, Anda meninggalkannya. Atau Anda menduakannya. “

Oh… pelajaran monogami nih, pikir saya dalam hati.

“Banyak orang yang lupa hal itu. Begitu sudah jadi orang besar, uangnya banyak, lalu cari istri lagi. Menikah lagi. Merasa “keadilan” yang dikatakan Al Qur’an hanya berupa keadilan material. Rumah tangganya jadi kacau. Ketika merasa ditinggalkan, pasangan hidupnya menjadi tidak rela. Akhirnya uangnya habis untuk biaya sana-sini. Banyak orang yang jatuh karena hal seperti ini. Dia lupa bahwa pasangan hidupnya itu sebenarnya ikut punya andil dalam kesuksesan dirinya,” beliau melanjutkan.

Hal ini saya buktikan sendiri, setiap saya datang ke rumahnya yang di Waru Sidoarjo, saya menjumpai beliau punya 1 istri, 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan.

sumber: http://www.kaskus.us/showpost.php?p=107260485&postcount=8

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan wisdom-nya.

Kentang

Tinggalkan komentar


Kisah ini terjadi di salah satu TK (taman kanak-kanak), pada suatu hari, guru TK tersebut mengadakan permainan dengan menyuruh setiap muridnya untuk membawa sebuah kantong plastik transparan dan kentang.

Masing-masing kentang tersebut di beri nama berdasarkan nama orang yang di benci. Jadi, setiap anak membawa jumlah kentang yang berbeda sesuai jumlah orang yang mereka benci. pada hari yang disepakati, semua murid membawa kantong plastik berisi kentang ke sekolah. ada yang berjumlah dua, ada yang tiga, bahkan ada yang lima buah.

Seperti perintah guru mereka, tiap-tiap kentang diberi nama orang yang mereka benci. murid-murid harus membawa kantong plastik berisi kentang itu kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun. hal itu berlangsung selama satu minggu.

Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk, murid-murid mulai mengeluh, apalagi yang membawa 5 buah kentang. selain berat, baunya juga tidak sedap. setelah satu minggu, murid-murid TK tersebut merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir.

“Bagaimana rasanya membawa kentang selama satu minggu?” tanya sang guru.

Segera keluarlah keluhan dari murid-murid TK tersebut. pada umumnya mereka merasa tidak nyaman harus membawa kentang-kentang busuk tersebut kemanapun mereka pergi. guru pun menjelaskan apa arti dari “permainan” yang mereka lakukan. “seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa bila kita tidak bisa memaafkan orang lain.”

………………………………………………………………………….
RENUNGAN

Sungguh tidak menyenangkan membawa-bawa barang busuk kemanapun kita pergi. baru satu minggu saja kita sudah tidak tahan, apalagi jika kita membawa kebencian itu seumur hidup? alangkah tidak nyamannya.

Tuhan mengajarkan kita untuk selalu mengampuni kesalahan orang lain. kita saja selalu memohon ampun pada Tuhan. Bagaiman Tuhan bisa mengampuni bila kita menyimpan dendam di dalam hati?

Seperti sebuah rumah. Jika tiap hari kita selalu menimbun sampah, tidak pernah menyapu halamannya, tidak membersihkan lantainya, alhasil rumah akan sangat kotor. Banyak binatang bersarang disitu. Baunya pun tidak enak. Kita bisa sakit jika tinggal di dalamnya.

Sama seperti hati dan pikiran, yang akan membuat kita jatuh sakit bila tidak pernah di bersihkan. salah satu cara membersihkannya adalah dengan mengampuni kesalahan orang lain dan menghapusnya dari ingatan.

============================================
Sudarmono, Dr. (2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. pp. 102. Hafara

BALADA UANG 1.000 DAN 100.000

Tinggalkan komentar


Konon, uang seribu dan seratus ribu memiliki asal-usul yang sama tapi mengalami nasib yang berbeda. Keduanya sama-sama dicetak di PERURI dengan bahan dan alat-alat yang oke. Pertama kali keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu sama-sama bagus, berkilau, bersih, harum dan menarik.

Namun tiga bulan setelah keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu bertemu kembali di dompet seseorang dalam kondisi yang berbeda.

Uang seratus ribu berkata pada uang seribu :

”Ya, ampyyyuunnnn. ……… darimana saja kamu, kawan? Baru tiga bulan kita berpisah, koq kamu udah lusuh banget? Kumal, kotor, lecet dan….. bau! Padahal waktu kita sama-sama keluar dari PERURI, kita sama-sama keren kan ….. Ada dapa denganmu?”

Uang seribu menatap uang seratus ribu yang masih keren dengan perasaan nelangsa. Sambil mengenang perjalanannya, uang seribu berkata :

“Ya, beginilah nasibku , kawan. Sejak kita keluar dari PERURI, hanya tiga hari saya berada di dompet yang bersih dan bagus. Hari berikutnya saya sudah pindah ke dompet tukang sayur yang kumal. Dari dompet tukang sayur, saya beralih ke kantong plastik tukang ayam. Plastiknya basah, penuh dengan darah dan taik ayam. Besoknya lagi, aku dilempar ke plastik seorang pengamen, dari pengamen sebentar aku nyaman di laci tukang warteg. Dari laci tukang warteg saya berpindah ke kantong tukang nasi uduk. Begitulah perjalananku dari hari ke hari. Itu makanya saya bau, kumal, lusuh, karena sering dilipat-lipat, digulung-gulung, diremas-remas. ……”

Uang seratus ribu mendengarkan dengan prihatin.:

“Wah, sedih sekali perjalananmu, kawan! Berbeda sekali dengan pengalamanku. Kalau aku ya, sejak kita keluar dari PERURI itu, aku disimpan di dompet kulit yang bagus dan harum. Setelah itu aku pindah ke dompet seorang wanita cantik. Hmmm… dompetnya harum sekali. Setelah dari sana, aku lalu berpindah-pindah, kadang-kadang aku ada di hotel berbintang 5, masuk ke restoran mewah, ke showroom mobil mewah, di tempat arisan Ibu-ibu pejabat, dan di tas selebritis. Pokoknya aku selalu berada di tempat yang bagus.

Jarang deh aku di tempat yang kamu ceritakan itu.

Dan…… aku jarang lho ketemu sama teman-temanmu. “

Uang seribu terdiam sejenak. Dia menarik nafas lega, katanya :

“Ya. Nasib kita memang berbeda. Kamu selalu berada di tempat yang nyaman. Tapi ada satu hal yang selalu membuat saya senang dan bangga daripada kamu!”

“Apa itu?” uang seratus ribu penasaran.

“Aku sering bertemu teman-temanku di kotak-kotak amal di tempat-tempat ibadah.

Hampir setiap minggu aku mampir di tempat-tempat itu.

Jarang banget tuh aku melihat kamu atau teman-teman
kamu disana…..”

 

 

Tak Tergantung (In Memoriam Belajar Tauhid Waktu di MTs.)

Tinggalkan komentar


Tak Bergantung
G : Oke anak-anak kita mulai lagi sesi diskusi pada pelajaran kali ini. Ada ide atau pertanyaan dari sesi diskusi sebelumnya? Yang bisa kasih pertanyaan ada hadiah menarik… Tentunya pertanyaan yang layak saja….
M : Saya pak. Apa manfaat bagi kita mengetahui tentang tuhan?
M : Saya juga pak. Kenapa tuhan kok satu?
M : Kalau saya… Ehm… Apa tujuan tuhan menciptakan kita?
M : Mungkin kita lanjutkan yang kemarin saja pak mengenai wajibul wujud atau causa prima…
G : Cukup-cukup, banyak sekali idenya, dan bagus semua. Sayang saya cuma bawa satu hadiah. Dibagi-bagi aja ya…
M : ya paaaaak.
G : Supaya runtut dengan pembahasan sebelumnya, mungkin kita lanjutkan dengan wajibul wujud aja ya, sesuai dengan saran dari teman kalian. Nah untuk mempermudah diskusi ini, saya akan memancing dengan pertanyaan ini, coba kalian pikirkan dengan baik. Kemudian yang ada ide silahkan dilontarkan. Tak usah malu. Dan bagi yang lain saya minta diperhatikan ide teman kalian, gak boleh ada cemoohan, ancaman atau kafir-kafiran. Disini mimbar bebas, setuju!
M : SETUJUUUUU……
G : Pertanyaannya adalah : apakah wajibul wujud itu butuh sesuatu?
M : TIDAAAAAK
G : Kenapa kok tidak butuh
M : Ya emang begitu…
M : Kalau butuh sesuatu berarti dia bukan wajibul wujud
M : huuuu…….
G : apakah wajibul wujud butuh ruang? Atau menempati ruang tertentu
M : yap
M : tidak
M : ???
M : pasti menempati area tertentu, karena kan gak mungkin ada sesuatu yang tidak berada di suatu area tertentu
M : setahu saya Dia menempati yang namanya Arsy
M : betuull (tepuk tangan)
G : Wah disini kayaknya ada yang jago tafsir ya?
M : hi hi hi hi
M : (malu)
G : Jadi apakah tuhan butuh tempat? jadi duluan mana tuhan atau tempat?
M : tuhan
M : tempat
M : arsy
M : ???
G : gimana nih? Mana yang betul menurut kalian?
M : Gak mungkin ada sesuatu yang tidak menempati ruang atau tempat tertentu. Yang menurut saya ruang itu dinamakan arsy…
M : Jadi menurut kamu ada arsy dulu baru tuhan?
M : ya (dengan mantap)
M : jadi siapa yang menciptakan arsy?
M : ya tuhan donk… (agak bingung)
M : jadi dulu mana arsy sama tuhan ??
M : ???
M : Gimana pak? Mungkin bisa dijelaskan pak?
M : iya pak, pusing….. kayak telor ama ayam…
G : Dipikir dulu, barangkali ada diantara kalian yang menemukan petunjuk…
M : (hening, saling kasak-kusuk)
G : (setelah agak lama) Yang membuat kalian bingung adalah karena kalian semua menyamakan wajibul wujud (tuhan) dengan makhluk dan ciptaan. Padahal dari diskusi sebelumnya sudah diperoleh kesimpulan bahwa penyebab segala sesuatu dan yang pertama dan utama adalah wajibul wujud, dan tidak ada sebab atau hal lain yang mendahuluinya. Jika ada sebab atau hal lain yang mendahuluinya, maka sebab atau hal tersebut pastilah wajibul wujud. Yang harus ada tanpa sebab sebelumnya. Sesuai dengan hasil diskusi kita sebelumya. Nah yang membuat kalian bingung adalah menyamakan wajibul wujud dengan fenomena yang kalian lihat saat ini. Jadi kalian mestinya bisa memisahkan antara wajibul wujud dan makhluk atau mumkinul wujud (istilah dalam bahasa arab). Mungkin bagi kalian agak susah membayangkan ada sesuatu zat yang tidak membutuhkan tempat atau ruang. Hal ini karena nalar dan otak kita selalu melihat segala sesuatu dan terbiasa dengan penglihatan tersebut, dan seakan-akan menganggap itu semua sebagai kebenaran.
Supaya tidak bingung ringkasnya begini jangan menyamakan wajibul wujud dengan mumkinul wujud yang butuh akan ruang, oke….
M : Bingung pak
M : ya pak…
M : (suara pelan) dogma lagi nih…
G : Jadi sebetulnya nalar kita sudah meyakini adanya wajibul wujud yang tak bergantung pada sebab lain (termasuk ruang). Hal ini sesuai dengan hasil diskusi kita sebelumnya… setuju…
M : betul pak… (ada yg garuk kepala)
G : Cuman masalahnya nalar kita sudah terbiasa melihat dan mengindera segala sesuatu yang menempati ruang tertentu. Misalnya mobil, digarasi, kita di kelas, ada pohon di hutan, di bumi, di antariksa, galaksi, dst. Jadi nalar kita disatu sisi menerima dalil wajibul wujud, disisi lain bingung membayangkan sesuatu yg tak menempati ruang.
M : BETUULLLL
M : Ya pak, lalu bagiamana penjelasannya yang mudah.
G : Itulah kelemahan kita atau otak kita
G : Kita terbiasa melihat segala sesuatu dan memastikan hal itu sebagai kebenaran. Sama seperti dalil sebab akibat kemarin, kita kayaknya tidak bisa membayangkan ada sesuatu zat yang ada tanpa disebabkan sesuatu. Padahal kalau hal itu tak ada maka kita saat ini tak ada.
M : Pak bisa dikasih contoh pak.
G : Begini (sambil memikir sebentar). Kalian pernah praktikum fisika mengenai pensil dimasukkan gelas bukan ??
M : ya pak (ada yang diam karena waktu itu tidak masuk)
G : Nah itu menunjukkan adanya tipuan penglihatan kita, kita melihat pensilnya menjadi bengkok sewaktu dimasukkan ke dalam gelas yang berisi air. Padahal akal kita meyakini bahwa pensil itu tidak bengkok. Hanya tipuan penglihatan saja. Berbahagialah bahwa kalian dibekali akan dan nalar, jadi tidak gampang tertipu…
M : Ha ha ha ha
G : Begitu juga dengan masalah tadi, mengenai tuhan yang tidak menempati ruang. Indera kita terbiasa melihat segala sesuatu menempati ruang. Tapi alhamdulillah kita masih dibekali akal yang mampu menganalisa, bahwa wajibul wujud tidak mungkin menempati ruang.
M : ya ya ya
M : begitu ya pak…
M : Bapak memang pinter deh, tak salah jadi guru….
M : ha ha ha ha….
M : tanya pak, jadi bagaimana dengan ayat yang mengatakan bahwa tuhan menempati arsy?
G : ada yang mau ngebahas ini?
M : pak mungkin bisa disebutkan itu dari surat mana ayat berapa?
M : iyah pak, dan kalau mungkin artinya dan tafsirnya sekalian
G : Begini saja deh, karena untuk membahas itu kayaknya butuh waktu lama (sambil melihat jam). Mungkin bisa dibahas di sesi diskusi yang lain, gimana?
M : ya pak….
G : Nah dari pembahasan kita pagi ini bisa disimpulkan bahwa wajibul wujud (tuhan) tidak membutuhkan ruang. Sepakat…
M : sepakat, setuju, ya….
G : Dengan cara yang sama kalian bisa menguraikan untuk waktu, gerak, dll. Jadi diharapkan nantinya kalian akan memahami bahwa wajibul wujud pun tidak terikat oleh waktu, gerak, dll.
G : Mungkin di sesi yang lain kita bisa sedikit bahas ini, jika masih ada sedikit ganjalan.
G : sekarang sudah waktunya istirahat, kalian boleh istirahat sekarang.
M : Ya pak, (meninggalkan kelas, ada yang ke toilet, ke kantin, dan ada yg tetap aja di kelas, sambil ngobrol alias diskusi offline).

9 PESAN MAKE UP UNTUK ANDA (WAHAI PARA WANITA)

Tinggalkan komentar


Abahe Nely

Agar Anda tampak lebih cantik dan menarik, lakukanlah resep berikut ini:

1. Jadikanlah “Ghoddul Abshor” (menundukkan pandangan) sebagai hiasan mata Anda, Insya Allah mata Anda akan semakin bening dan jernih.

2. Oleskan lipstik kejujuran pada bibir Anda, Insya Allah akan semakin manis.

3. Gunakan pemerah pipi Anda dengan kosmetika yang dibuat dari rasa malu yang diproduksi salon iman.

4. Pakailah sabun istighfar yang menghilangkan semua dosa dan kesalahan yang Anda lakukan.

5. Rawatlah rambut Anda dengan jilbab Islami yang akan menghilangkan ketombe pandangan laki-laki yang membahayakan.

6. Hiasilah kedua tangan Anda dengan gelang tawadlu’ dan jari-jari Anda dengan cincin ukhuwah (persaudaraan).

7. Sebaik-baik kalung adalah kesucian.

8. Bedakilah wajah Anda dengan air wudlu, Insya Allah akan bercahaya di akhirat.

9. Langkahkanlah kaki Anda menuju jalan yang diridloi Allah SWT. Insya Allah akan selamat perjalanan hidup Anda.

walhamdulillah ^_^

KISAH NYATA DARI RUSIA

Tinggalkan komentar


Seorang ayah, yang memiliki putra yang berusia kurang
lebih 5 tahun, memasukkan putranya tersebut ke sekolah
musik untuk belajar piano. Ia rindu melihat anaknya
kelak menjadi seorang pianis yang terkenal.Selang
beberapa waktu kemudian, di kota tersebut datang
seorang pianis yang sangat terkenal.Karena
ketenarannya, dalam waktu singkat tiket konser telah
terjual habis.Sang ayah membeli 2 buah tiket
pertunjukan, untuk dirinya dan anaknya.

Pada hari pertunjukan, satu jam sebelum konser
dimulai, kursi telah terisi penuh, sang ayah duduk dan
putranya tepat berada di sampingnya.Seperti layaknya
seorang anak kecil, anak ini pun tidak betah duduk
diam terlalu lama, tanpa sepengetahuan ayahnya, ia
menyelinap pergi. Ketika lampu gedung mulai
diredupkan, sang ayah terkejut menyadari bahwa
putranya tidak ada di sampingnya. Ia lebih terkejut
lagi ketika melihat anaknya berada dekat panggung
pertunjukan, dan sedang berjalan menghampiri piano
yang akan dimainkan pianis tersebut.

Didorong oleh rasa ingin tahu, tanpa takut anak
tersebut duduk di depan piano dan mulai memainkan
sebuah lagu, lagu yang sederhana, twinkle2 little
star. Operator lampu sorot, yang terkejut mendengar
adanya suara piano mengira bahwa konser telah dimulai
tanpa aba-aba terlebih dahulu, dan ia langsung
menyorotkan lampunya ke tengah panggung. Seluruh
penonton terkejut, melihat yang berada di panggung
bukan sang pianis, tapi hanyalah seorang anak kecil.

Sang pianis pun terkejut, dan bergegas naik ke atas
panggung. Melihat anak tersebut, sang pianis tidak
menjadi marah, ia tersenyum dan berkata “Teruslah
bermain”, dan sang anak yang mendapat ijin, meneruskan
permainannya. Sang pianis lalu duduk, di samping anak
itu, dan mulai bermain mengimbangi permainan anak itu,
ia mengisi semua kelemahan permainan anak itu, dan
akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang
sangat indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam
permainan piano tersebut. Ketika mereka berdua
selesai, seluruh penonton menyambut dengan meriah,
karangan bunga dilemparkan ke tengah panggung.

Sang anak jadi GR (Gede Rasa), pikirnya “Gila, baru
belajar piano sebulan saja sudah hebat!” Ia lupa bahwa
yang disoraki oleh penonton adalah sang pianis yang
duduk di sebelahnya, mengisi semua kekurangannya dan
menjadikan permainannya sempurna.

Apa implikasinya dalam hidup kita ?

Kadang kita bangga akan segala rencana hebat yang kita
buat, perbuatan-perbuatan besar yang telah berhasil
kita lakukan. Tapi kita lupa, bahwa semua itu terjadi
karena Allah ada di samping kita. Kita adalah anak
kecil tadi, tanpa ada Allah di samping kita, semua
yang kita lakukan akan sia-sia. Tapi bila Allah ada di
samping kita, sesederhana apapun hal yang kita lakukan
hal itu akan menjadi hebat dan baik, bukan saja buat
diri kita sendiri tapi juga baik bagi orang di sekitar
kita.

Semoga kita tidak pernah lupa bahwa ada Allah di
samping kita.

IDKHOOLUS SURUUR ATAWA KIYAI SUPERMAN

1 Komentar


oleh, Abahe Nely

Idkholus suruur adalah sebentuk akhlak mulia yang amat dianjurkan, tapi bukannya tanpa resiko salah paham.

Di akhir pengajian suatu malam, Mbah Kusnan sang tuan rumah menjamu Mbah Bisri Mustofa dengan berbagai hidangan makan larut malam yang lezat-lezat. Mbah Bisri, beberapa santri pendhereknya dan sejumlah tamu undangan pun menikmati pesta dengan lahapnya. Habis nasi di piring Mbah Bisri dan teh manis pun telah diminum pula, Mbah Kusnan buru-buru menyodorkan setandan pisang kehadapan kiyai pujaannya itu.

Meskipun sudah merasa kenyang, Mbah Bisri ber-idkhoolus suruur kepada Mbah Kusnan.

“Waahh!” serunya dengan suara riang, “sampeyan kok tahu saja kesukaan saya!”

Keruan, Mbah Kusnan merasa amat bahagia khidmahnya diterima.

Esok harinya, sebelum Mbah Bisri selesai mengaji waktu dluha, telah datang kiriman setandan pisang.

“Dari Mbah Kusnan”, santri yang menerima melaporkan.

Esoknya lagi, pada waktu yang sama, setandan pisang datang lagi. Dan besoknya lagi, dan besoknya lagi…. Hingga berminggu-minggu Mbah Kusnan beristiqomah mengirim tandan pisang setiap harinya. Sampai-sampai, Mbah Bisri pun mblêngêr.

“Kang Kusnan ini gimana?” keluhnya, “apa dikiranya aku ini ménco?”

* * * * *

Idkholus surur juga terkadang tidak mudah.

Kiyai Ahmad Abdul Hamid, Kendal, Rois Syuriyah PWNU Jawa Tengah waktu itu, terkenal sebagai penggemar olah raga. Walaupun sudah sepuh, beliau tetap aktif dalam berbagai kegiatan olah raga, dari jogging sampai dengan sepak bola.

Kiyai Ahmad juga senantiasa membina hubungan baik dengan segala kalangan. Tidak aneh jika, ketika seorang pengusaha setempat berisnvestasi membangun kolam renang publik, Kiyai Ahmadlah yang diminta meresmikannya.

Karena Kiyai Ahmad adalah seorang olah ragawan –dan untuk memenuhi unsur entertainment—maka diagendakan bagi beliau untuk melakukan “lompatan pertama” dari menara kolam. Tak tanggung-tanggung, sang pengusaha menghadiahkan sepotong celana renang untuk beliau kenakan bagi keperluan itu.

Jelas, ini situasi yang sulit. Demi idkholus surur, Kiyai Ahmad merasa tak sampai hati menyingkirkan celana renang pemberian si pengusaha. Tapi, celana itu tak cukup panjang untuk menutupi auratnya. Apa akal?

Pada waktu yang ditentukan untuk acara peresmian itu, Kiyai Ahmad tampil di puncak menara kolam, bercelana panjang, dengan celana renang dikenakan diluarnya laksana Superman!

Bersiap menghadapi Kehilangan

Tinggalkan komentar


Bila Anda siap MENDAPATKAN, sudahkan Anda juga siap KEHILANGAN?

Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Dari mulai marah-marah, menangis, protes pada takdir, hingga bunuh diri. Masih ingatkah Anda pada tokoh-tokoh ternama, yang tega membunuh diri sendiri hanya karena sukses mereka terancam pudar? Barangkali kisah yang saya adaptasi dari The Healing Stories karya GW Burns berikut ini, dapat memberikan inspirasi.

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur.

Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.

Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang- barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan. Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.

“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok- penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank. “Sebaiknya koin ini Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.

Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan toples. Setelah ia membeli lembaran kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal.

Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar.

Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak,mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur. Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.

Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Semoga kita termasuk orang yang bijak menghadapi kehilangan dan sadar bahwa sukses hanyalah TITIPAN Allah. Benar kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup. Bila kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

Ada kalimat yang saya suka sekali dalam menempatkan diri dalam kehidupan:

” Kemenangan Hidup bukan berhasil mendapat banyak, tetapi ada pada kemampuan menikmati apa yang didapat tanpa menguasai. ”HIDUPLAH SEPERTI ANAK-ANAK YANG DAPAT MENIKMATI TANPA HARUS MENGUASAI”

============================================
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi, Idea Press, Yogyakarta. pp. 138-140. ISBN 978-6028-686-402.

"Ternyata ROKOK itu TIDAK Berbahaya"

10 Komentar


Pada zaman dahulu kala, ada tiga orang dokter. Mereka selalu bersama kemana saja mereka pergi. Tapi ketiga-tiganya memiliki kegemaran berlainan.
A. dr Jon Poni (suka main perempuan)
B. dr Jon Joni (suka minum minuman keras)
C. dr Jon Doni (suka segala jenis rokok) .

Suatu hari ketiga sahabat ini berjalan jalan tanpa tujuan. Tiba-tiba ketiganya bertemu dengan sebuah ketel/ kendi (seperti cerita Aladin). Lalu salah seorang mengambilnya lalu menggosok ketel tersebut. Sejurus kemudian asap
keluar dari corong ketel tersebut dan secara perlahan berganti menjadi satu makluk yang menyeramkan yakni sesosok jin yang ganas. Lalu jin tersebut tertawa: “Ha ha ha…” dan berkata “Akulah Jin Ifrit! Karena kamu telah membebaskan aku dari ketel itu maka aku akan tunaikan apa saja permintaan kamu sekalian”.

Ketiga sahabat yang pada mulanya panik dan takut menjadi gembira lalu termenung dan berpikir tentang peluang dan kemauan masing-masing yang mungkin hanya sekali mereka jumpai dalam hidup mereka. Lalu mereka memilih kemauan mengikuti kegemaran masing-masing.

Berkatalah si A,”Aku mau perempuan-perempuan muda dari berbagai bangsa di seluruh dunia dan letakkan dalam sebuah gua tertutup dan jangan ganggu aku selama 10 tahun..
” Buzzz……..!! dengan sekejap mata jin itu menyempurnakan permintaan si A.

Berkata si B, “Aku mau semua jenis arak dari seluruh dunia untuk bekal selama sepuluh tahun dan letakkan dalam sebuah gua tertutup dan jangan ganggu aku selama 10 tahun.
” Buzzz……….!! dengan sekejap mata jin itu menyempurnakan permintaan si B.

Berkata pula si C,”Aku mau semua jenis rokok dari seluruh dunia untuk bekal selama sepuluh tahun dan letakkan dalam sebuah gua tertutup dan jangan ganggu aku selama 10 tahun.
” Buzzzz……..!! dengan sekejap mata jin itu menyempurnakan permintaan si C.

Singkat kata singkat cerita …
Setelah genap 10 tahun, maka jin tersebut muncul kembali untuk membuka pintu gua masing-masing sebagaimana yang dijanjikan. Maka jin tersebut pergi membuka pintu gua si A, ketika dibuka maka keluarlah si A dengan keadaan kurus kering, berdiri pun tidak bisa karena tidak sanggup untuk
menggerakkan lutut sebab hari-hari hanya memuaskan nafsu dengan perempuan. Tiba-tiba si A pun jatuh ketanah lalu mati!!

Setelah itu jin tersebut pergi ke gua si B, ketika pintu dibuka maka keluarlah si B dengan perut yang sangat buncit karena hari-hari mabuk-mabukan. Jalan pun terhuyung-huyung. Tiba-tiba si B pun jatuh ketanah lalu mati !!

Setelah itu jin pergi ke gua si C dan membuka pintu gua. Tiba-tiba si C keluar dalam keadaan sehat walafiat dan terus menampar si jin. Sambil memaki si jin, ia berkata: JIN GOBLOOOOOOK! !!! KOREKNYA MANA????!!!!

Kesimpulan : “Rokok tidak berbahaya sepanjang tidak ada koreknya” hehehe

Rokok Di Bibir Pak Kiyai

Tinggalkan komentar


Sudah hampir seminggu Kiai Badrun sakit. Murid-muridnya terlantar tak ada yang mengajari. Pondok kecilnya sepi meski Jarun dan Manun masih sering datang dan mengajak santri yang lain berkumpul. Hindun pun hampir tak bisa ke mana-mana. Hanya mondar-mandir dari dapur ke kamar, kamar ke ruang tamu, balik lagi ke kamar. Sesekali membawakan makanan, sesekali membawakan air untuk wudhu. Di sela-sela sekali-sekalinya Hindun itu, Jarun masuk ke kamar sang Kiai.

“Kiai, apa Kiai pernah merokok?” Jarun bertanya dengan muka serius. Baru kali itu mukanya terlihat serius bukan kepalang. Alis-alisnya menyatu seperti tengah berpikir keras dan berupaya meramal meski ia tahu ramalannya akan tak menghasilkan apa-apa.

“Maksud kamu, Run?”

“Maksud saya ya, apa Kiai pernah merokok sampai jatuh sakit seperti ini? Kiai kan tahu, rokok itu dapat menyebabkan kanker, gangguan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin… Mungkin saja Kiai terserang penyakit yang rentet saya sebut itu.”

“Maksud kamu, Run?” Kiai Badrun bertanya lagi. Tak percaya.

“Kalau bukan karena rokok, lalu karena apa? Rokok itu kan kawan malaikat maut yang paling mengerikan, Kiai.”

“Saya ndak pernah merokok, Run.”

“Kalau begitu, sekarang Kiai mungkin harus merokok.”

“Maksud kamu, Run?”

“Mungkin saja kalau sudah punya label Kiai, rokok itu jadi obat, jadi vitamin, Kiai. Rasanya jadi lebih manis dari anggur. Kiai Makmun, sudah berapa tahun umurnya? Nyaris satu abad, Kiai. Merokoknya sudah lebih dari setengah abad, tapi masih lancar mengajar dan memimpin pengajian.”

Kiai Badrun diam saja. Menatap langit-langit sampai muridnya yang paling sontoloyo itu membisiknya lagi, “Ini mungkin jadi obat, Kiai. Percayalah…”

Baru setelah itu, Kiai Badrun tertawa. Khas. Haha…

“Kok Kiai malah tertawa? Apanya yang lucu? Apa Kiai ndak paham kalau Kiai menghisap satu rokok ini saja, ada banyak petani tembakau yang rizkinya terpenuhi? Bayangkan saja kalau semua kemudian berdoa untuk Kiai supaya lekas sehat lagi. Apa Kiai juga ndak paham kalau Kiai menghisap satu rokok ini saja, pendapatan negara ikut naik dan fakir miskin jadi punya lebih banyak jatah pembangunannya? Bayangkan kalau fakir-fakir miskin itu berdoa untuk Kiai supaya lekas sembuh…”

“Jadi rokok ini bisa jadi lebih sehat dari madu? Lebih mujarab dari paracetamol?”

“Dengan izin Allah, Kiai…” Jarun mantap.

“Kalau begitu, ke mana nanti larinya malaikat maut? Yang ikut membunuh orang-orang dari nyala api di ujung bibirnya itu…”

“Ah, Kiai ini. Mana ada malaikat maut dekat dengan para pemain sepakbola yang olahraga setiap hari? Apa Kiai lupa kalau sebatang rokok yang Kiai hisap itu bisa membuat para atlet bisa terus berolahraga dan berprestasi, kompetisi sepakbola terus bergulir, bulutangkis bisa juara olimpiade, bola basket kampiun di Asie Tenggara, voli kita bersaing di Asia? Apa Kiai juga lupa kalau sebatang rokok yang Kiai hisap itu sudah berhasil menyekolahkan ribuan mahasiswa cerdas? Italia, Inggris, Spanyol, sudah dekat sekali dengan kita, Kiai. Tontonannya sudah masuk ke negeri kita menjadi sangat dekat karena sebatang rokok yang Kiai hisap itu. Bayangkan betapa girangnya anak-anak muda yang jingkrak-jingkrak di konser musik, dari artis dusun sampai luar negeri, teater dan ruang seni begitu terbuka… Semua, bisa jadi karena satu batang rokok yang Kiai hisap itu. Dan Kiai bisa bayangkan sendiri, bandingkan saja apa yang sudah dipersembahkan sebatang rokok yang Kiai hisap itu dibandingkan zakat, infaq dan shadaqah yang setiap hari Kiai suar-suarkan lewat pengajian untuk dikeluarkan…”

Kiai Badrun diam saja. Tatapannya lurus ke muridnya yang paling sontoloyo. Baru kali ini Kiai terkesima karena Jarun bisa terus bicara tanpa berhenti dalam kalimat yang tak habis-habis. Mukanya memerah karena kehabisan napas, dan setelah itulah sang Kiai kembali tertawa.

Haha…

Jarun membalasnya dengan tawa yang lebih keras. Lalu menyodorkan sebatang rokok ke depan bibir sang Kiai.

“Hisap saja, Kiai… Bahkan, anggur, di tangan Kiai menjadi lebih lezat dari susu dan madu.”

Kiai mengambilnya, memasukkannya di sela-sela bibir. Menggamitnya dengan seksama, lalu berbisik saja, “Ndak usah dinyalakan apinya…”

Older Entries Newer Entries