Beranda

seberapa bahayakah kesibukan?

5 Komentar


bismillahirahmanirahim,

sahabatku semua yang dirahmati Allah, duch macetnya pengen jalan ke puncak saja menikmati keindahan harus berjam-jam dalam kendaraaan karena macetnya…

apa yang terjadi jika kemacetan dan kesibukan terus-terusan terjadi melingkupi kehidupan kita? gampang marah, gampang emosi, gampang putus asakah?

ya to tidak kawan?

kawan, Dalam aksara Cina, kata “sibuk” berarti “kematian hati” atau ” hati yang mati “. Kesibukan dapat membuat orang “mati rasa” karena dapat merampas hal yang berharga dalam hidup kita, yakni kepekaan dan kepedulian kita terhadap orang lain.  Orang yang terlalu sibuk bisa kehilangan kepekaan terhadap Tuhan dan sesama. Lebih parah lagi, orang yang sibuk lama kelamaan bisa menjadi egois — tidak lagi peduli pada manusia di luar dirinya, bahkan terhadap keluarganya sendiri.
Jangan terjebak pada kerutinan dan kesibukan atau hoby yang berlebihan. Berhati-hatilah saat memasuki rutinitas kesibukan.

sebuah kisah untuk orang yang selalu dalam kesibukan hidupnya….

Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang diMILIKInya sampai akhirnya

Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ”Why not the best,” katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika.

baca kisah selengkapnya…

aduh, kok macet terus?

2 Komentar


bismillahirahmanirahim

Hidup di kota besar semacam Jakarta atau Bandung membutuhkan kekuatan iman dan kekuatan mental. Macet di perjalanan dalam waktu-waktu tertentu adalah suatu permasalahan yang kadangkala sering kita hadapi. Tak heran bila untuk sebuah perjalanan, kalau kita tidak memakai strategi yang bagus, tidak memakai perencanaan yang matang, maka kemacetan akan benar-benar mencuri waktu begitu lama. Terkadang bisa berjam-jam di jalan. Kalau saja tidak berusaha untuk bening hati, sepertinya sepanjang jalan yang terjadi hanya dongkol dan marah-marah. “Aduh , kapan sampainya! Aduh, kok ini lama banget! Aduh, kok macet terus!” Mungkin ungkapannya seperti itu. Aduh dan aduh.

Padahal kata-kata aduh, kalau hanya tanda keluh kesah, sebetulnya tidak menyelesaikan masalah. Justru kata-kata yang terlontar itu menunjukkan ketidaksabaran kita. Apalagi tiba-tiba di pinggir jalan ada kendaraan lain berhenti seenaknya. Kita boleh kecewa dan melihat ini sebagai sesuatu yang harus diperbaiki. Tetapi, tidak berarti kita harus sengsara dengan marah-marah atau berkeluh kesah. Mata terbeliak dan mulut kadang berucap “Minggir, dong!” Mungkin inginnya menghardik seperti itu. Tetapi, alangkah lebih baiknya jika kita menyapa dengan kata yang lemah lembut, “Maaf, Pak! Boleh agak ke pinggir sedikit!” Ungkapan seperti ini nampaknya akan lebih ringan ke dalam hati, dari pada melotot dengan menggunakan otot.

baca selengkapnyas disini..